Naradaily-Fenomena quarter life crisis kian akrab di telinga generasi muda, khususnya mereka yang berada di rentang usia 20 hingga 30 tahun. Fase ini sering kali memunculkan kegelisahan tentang masa depan, mulai dari karier, hubungan, hingga tujuan hidup jangka panjang.
Psikolog keluarga dan anak, Anna Surti Ariani, menjelaskan bahwa quarter life crisis merupakan bagian dari proses pencarian jati diri yang wajar terjadi pada usia dewasa muda. Perempuan yang akrab disapa Nina itu menyebut, kondisi ini kerap disertai kecemasan terhadap pencapaian hidup.
“Di usia seperempat abad, banyak individu mulai mempertanyakan pilihan hidupnya, mulai dari pekerjaan, hubungan, sampai tujuan jangka panjang. Itu hal yang wajar, tetapi perlu dikelola dengan sehat,” ujar Anna dalam beberapa kesempatan diskusi publik tentang kesehatan mental.
Menurutnya, tanda-tanda quarter life crisis biasanya terlihat dari kebingungan menentukan arah karier, tekanan untuk segera mapan, hingga munculnya perasaan tertinggal dibandingkan teman sebaya. Tekanan tersebut semakin kuat dengan hadirnya media sosial, yang membuat generasi muda mudah membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.
Padahal, setiap individu memiliki proses dan waktunya masing-masing. Perbandingan yang berlebihan justru dapat memperbesar rasa cemas dan menurunkan kepercayaan diri.
Senada dengan itu, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) juga mengingatkan pentingnya literasi kesehatan mental. Anak muda diimbau untuk tidak terburu-buru melabeli diri dengan gangguan psikologis tertentu tanpa pemeriksaan profesional.
Anna menegaskan bahwa quarter life crisis bukanlah gangguan mental, melainkan fase perkembangan yang umum terjadi. Namun, ia mengingatkan agar tetap waspada jika kecemasan berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Jika rasa cemas menetap, mengganggu pekerjaan atau relasi, disertai sulit tidur dan kehilangan motivasi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog,” tegasnya.
Ia pun mengimbau generasi muda untuk memanfaatkan fase ini sebagai momentum bertumbuh. Fokus pada pengembangan diri, membangun lingkungan pertemanan yang suportif, serta menetapkan target hidup yang realistis dinilai dapat membantu melewati quarter life crisis dengan lebih positif.(M.Fikhar Zakaria)