Naradaily-Suasana hari raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1948, di Pulau Dewata terasa sangat hening dan khidmat, Kamis (19/3/2026). Di balik kesunyian total tersebut, para pecalang (polisi adat) tetap bersiaga penuh untuk mengawal jalannya penyepian sekaligus membantu warga dalam kondisi darurat.

Masyarakat Bali merayakan Nyepi dengan cara yang unik dan sarat makna. Berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya yang identik dengan keramaian, Nyepi justru mengharuskan pulau ini berhenti beraktivitas secara total selama 24 jam.

Selama pelaksanaan Nyepi, tidak ada kendaraan yang lalu lalang, penerbangan dihentikan, lampu-lampu dipadamkan, hingga aktivitas rumah tangga yang sangat dibatasi. Pulau yang biasanya dipenuhi hiruk-pikuk wisatawan seketika berubah menjadi ruang sunyi yang luas.

Ritual ini merupakan bagian dari catur brata penyepian. Umat Hindu melakukan refleksi diri dan penyucian alam semesta tanpa gangguan aktivitas luar.

Untuk menjaga kelancaran ritual ini, setiap Banjar di Bali mengerahkan pecalang untuk berpatroli. Di Banjar Wangaya Kaja, misalnya, pengamanan dilakukan secara ketat namun tetap humanis, terutama karena lokasinya yang berdekatan dengan fasilitas kesehatan.

I Putu Yudha, selaku kelian Banjar Wangaya Kaja menjelaskan, pihaknya membagi petugas dalam beberapa giliran kerja demi menjaga keamanan wilayah selama 24 jam penuh. “Saya libatkan sebanyak 14 pecalang di sini, dengan dibagi dua sif dari jam enam pagi sampai jam satu siang, selanjutnya dari jam satu siang sampai jam enam sore untuk malam hari sampai keesokan harinya dijaga oleh warga dan pemuda Banjar. Kami juga bekerjasama dengan rumah sakit dan seandainya rumah sakit ada yang darurat yang untuk dirujuk kami siap mendampingi,” terangnya.

Sebelum mencapai puncak catur brata penyepian, umat Hindu di Bali telah melaksanakan rangkaian ritual panjang, salah satunya adalah Upacara Melasti. Ritual ini dilaksanakan beberapa hari sebelum Nyepi sebagai bagian dari penyucian diri (bhuana alit) dan alam semesta (bhuana agung).

Melalui melasti, segala kotoran spiritual di hanyutkan ke sumber air atau laut, sehingga umat memasuki Tahun Baru Saka dalam keadaan suci dan bersih. (sic)