Naradaily-Korban akibat gempa dengan magnitudo (M) 7,8 yang mengguncang Filipina pada Senin (8/6/2026) terus bertambah. Laporan terbaru menyebutkan 15 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya.

Melansir AFP, Selasa (9/6/2026), Direktur pertahanan sipil regional Rodrigo Sosmena menyebut, 12 orang tewas di wilayah Soccksargen di pulau Mindanao, di mana 129 orang lainnya terluka di sana. Sementara itu, 3 korban tewas lainnya tercatat di provinsi Davao Occidental.

Sebelumnya, sejumlah gempa susulan telah terjadi di wilayah tersebut hingga M 6,1. Gempa yang terjadi juga sempat memicu peringatan tsunami di Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) RI juga mengonfirmasi gempa tersebut, menyebut gempa magnitudo 7,7 sekitar 244 kilometer (km) Barat Laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara (Sulut). Setelah melalui pemantauan, peringatan tsunami di sejumlah wilayah RI resmi dicabut.

Merujuk situs resmi BMKG, tsunami dikatakan berakhir sekitar pukul 10.15 WIB, kemarin. “Peringatan Dini TSUNAMI yang disebabkan oleh gempa Mag:7.7, 08-Jun-26 06:37:42 WIB, dinyatakan telah berakhir,” tulis BMKG.

Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Mindanao, Filipina selatan pada Senin (8/6/2026), sempat memicu peringatan tsunami di sejumlah negara kawasan Asia Pasifik. Di tengah kekhawatiran atas dampak bencana tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan belum ada laporan warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban maupun terdampak langsung akibat gempa tersebut.

Pemerintah Indonesia melalui Kemlu bersama perwakilan diplomatik di Filipina dan Malaysia terus memantau perkembangan situasi, termasuk kondisi para WNI dan pekerja migran Indonesia yang berada di wilayah yang merasakan getaran gempa. Heni Hamidah Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI mengatakan, hingga saat ini belum ditemukan informasi mengenai WNI yang menjadi korban maupun mengalami dampak serius akibat gempa yang berpusat di wilayah selatan Filipina tersebut.

“Sejauh ini belum terdapat informasi adanya WNI atau pekerja migran Indonesia yang terdampak dalam gempa tersebut,” kata Heni, dalam keterangan resminya, hari ini. Pemantauan dilakukan secara intensif oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Davao, Filipina, yang wilayah kerjanya mencakup area terdampak gempa.

Selain itu, Kemlu juga berkoordinasi dengan perwakilan Indonesia di Malaysia mengingat getaran gempa turut dirasakan di sejumlah wilayah negara bagian Sabah. Menurutnya, perwakilan RI di Sabah terus memonitor perkembangan situasi sejalan dengan imbauan yang telah dikeluarkan pemerintah setempat pascagempa.

Kemlu RI mengimbau seluruh WNI, termasuk pekerja migran Indonesia yang berada di Filipina maupun Malaysia timur, untuk tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari otoritas setempat terkait perkembangan kondisi pascagempa. “Diimbau kepada seluruh WNI dan pekerja migran Indonesia agar terus memantau perkembangan situasi lebih lanjut,” ujarnya.

Bagi WNI yang membutuhkan bantuan atau informasi darurat, Kemlu meminta agar segera menghubungi perwakilan Indonesia terdekat. WNI di Filipina dapat menghubungi KJRI Davao. Sementara WNI di Malaysia bagian timur dapat menghubungi KJRI Kota Kinabalu atau Konsulat RI di Tawau.

Sebelumnya diberitakan, gempa bumi tersebut terjadi pada Senin pagi sekitar pukul 07.37 waktu setempat. Berdasarkan data yang dirilis otoritas pemantauan gempa, guncangan berkekuatan magnitudo 7,7 itu terjadi pada kedalaman sekitar 50 kilometer di bawah permukaan bumi.

Pusat gempa berada pada koordinat 5,80 derajat Lintang Utara dan 125,14 derajat Bujur Timur, atau sekitar 58 kilometer dari Kota General Santos, salah satu kota terbesar di Filipina selatan yang memiliki populasi lebih dari 670 ribu jiwa. Secara geografis, lokasi gempa juga relatif dekat dengan wilayah Indonesia bagian utara. Episentrum tercatat berada sekitar 244 kilometer barat laut Pulau Karatung, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Akibat kekuatannya yang besar, getaran gempa dirasakan hingga lintas negara. Selain di sejumlah wilayah Filipina, guncangan juga dirasakan warga di Sabah, Malaysia, terutama di kawasan Tawau dan Semporna.

Di Indonesia, getaran gempa terpantau dirasakan di beberapa daerah, termasuk Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara. (sic)