Naradaily-Usai gempa dahsyat yang melanda sebagian besar wilayah Venezuela pada 24 Juni lalu, sebuah merek fashion di negara tersebut mengubah rumah produksinya menjadi produsen kantong jenazah, seiring dengan meningkatnya jumlah korban jiwa akibat bencana tersebut. Melansir Viory, Jumat (10/7/2026), rumah mode itu bernama Efrain Mogollon, yang berbasis di Aragua itu, dikenal dengan desain pakaian wanita berwarna-warni.
Usai bencana itu, Mogollon menghentikan pekerjaan rutinnya untuk membuat kantong jenazah yang bagi para korban di daerah yang paling parah terdampak. Mogollon membuat kantong-kantong mayat tersebut dari lembaran plastik, juga ditambahkan hiasan kecil berbentuk Yesus Kristus yang terpasang pada bagian resletingnya.
Perancang sekaligus pendiri perusahaan, Efrain Mogollon menjelaskan, inisiatif ini muncul setelah seorang pengikutnya di media sosial membagikan seruan untuk mencari penjahit yang akan membantu membuat kantong jenazah guna menanggulangi para korban gempa. “Kami mulai suatu hari membuat 48 buah dan targetnya terus berubah. Kemudian rata-rata kami menyadari bahwa 100 buah dibuat, lalu berubah menjadi 150, kemarin menjadi 170 dan hari ini, sejauh ini, kami telah melipatgandakannya,” kata Mogollon dalam keterangannya.
Mogollon pun akhirnya memodifikasi total rumah produksi dan jalur produksinya untuk menyesuaikan dengan spesifikasi teknis yang dibutuhkan. “Kami memulai dengan kecepatan penuh dengan ‘By Efrain’, membuatnya dari plastik ini, menghubungi pemasok, dengan benang yang kami miliki, sesuai dengan peraturan yang dibutuhkan untuk membuat tas-tas ini. Dan saat itulah kami mulai sepenuhnya mengubah lini produksi kami,” jelas sang desainer.
Dengan perubahan ini, Mogollon mengakui dampak emosional dari para pekerja yang terlibat dalam pembuatan kantong jenazah, tetapi mereka pun menemukan motivasi dalam tujuan kemanusiaan dari pekerjaan mereka. “Ini sangat sulit. Tetapi saya pikir yang membantu dan mendukung kami adalah kenyataan bahwa kami melakukannya dari hati dan bahwa ini tentang memberikan martabat kepada kematian jiwa-jiwa ini dalam perjalanan terakhir mereka,” tambahnya.
Sementara itu, salah seorang penjahit Ana Colmenares menyampaikan kesannya bahwa membantu pekerjaan ini menghadirkan perasaan campuran berupa kepuasan sekaligus kesedihan. “Seseorang merasa tenang, bahagia, karena kami membantu mengatasi masalah yang disebabkan oleh gempa bumi, tetapi itu membuat kami sedih karena ini adalah kantong untuk orang yang meninggal dan, ya, tidak ada cara lain, kami harus terus maju, kami harus melakukannya,” ujar Colmenares.
Berdasarkan data otoritas Venezuela terbaru, Jumlah korban tewas akibat gempa dahsyat yang mengguncang Venezuela terus bertambah dan kini telah mencapai 3.889 orang, dengan 16.740 lainnya terluka, kata Presiden Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez. “3.889 orang meninggal, 16.740 terluka, dan 6.462 orang telah diselamatkan,” kata Rodriguez lewat unggahan di Telegram, Kamis (9/7/2026).
Menurut data terkini, sebanyak 17.907 orang masih kehilangan tempat tinggal, dan 86.794 keluarga telah menerima bantuan. Selain itu, sebanyak 89 pengungsian telah didirikan di seluruh negeri, yang mampu menampung 16.891 orang.
Pada Rabu, 24 Juni, dua gempa bumi kuat dengan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang negara di pesisir utara Amerika Selatan itu dalam waktu yang berdekatan. Guncangan awal dengan magnitudo 7,2 terjadi pada 18.04 waktu setempat (pukul 11:04 WIB) dan disusul dengan gempa bumi utama bermagnitudo 7,5 dengan selang waktu 39 detik setelahnya. (sic)