Naradaily-Usai kematian lima peserta program Latihan Dasar Militer (Latsarmil), Kementerian Pertahanan melakukan evaluasi. Kemhan akhirnya mengubah konsep pendidikan bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dari latsarmil menjadi Pembekalan Bela Negara dan Manajerial.
Perubahan itu seiring dengan hasil evaluasi dan penyesuaian menyeluruh, usai insiden meninggalnya lima peserta program latsarmil bagian dari Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). “Sebagai bagian dari evaluasi tersebut format kegiatan yang sebelumnya dikenal sebagai latsarmil tidak lagi dilaksanakan dalam bentuk sebelumnya. Saat ini kegiatan diarahkan menjadi latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial,” kata Kepala Biro Infohan Sekjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam keteranganya, Kamis (2/7/2026).
Rico menegaskan tujuan latihan ini, bukan membentuk peserta menjadi prajurit ataupun Komponen Cadangan (Komcad). Melainkan membangun karakter disiplin, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, tanggungjawab, kerjasama serta kesiapan manajerial sebagai calon manajer.
“Dalam penyesuaian ini materi teknis dan taktis militer sudah dihilangkan termasuk kegiatan menembak, taktik regu senapan, serta kegiatan taktis dan teknik lainnya. Tidak ada lagi latihan fisik dalam pengertian latihan militer,” kata Rico.
“Aktivitas yang ada hanya bersifat olahraga ringan untuk menjaga kebugaran seperti senam pagi atau jalan kaki ringan dengan tetap menyesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta,” tambahnya. Selanjutnya, untuk aspek kesehatan akan diperkuat melalui pemantauan harian profiling kesehatan lanjutan, pemeriksaan peserta yang memiliki faktor resiko, serta penguatan mekanisme pelaporan keluhan dan rujukan medis.
“Peserta dengan kondisi tertentu juga diberikan perhatian khusus agar tidak dibebani aktivitas yang melebihi kemampuan kesehatannya. Prinsip utama dari seluruh penyesuaian ini adalah keselamatan dan kesehatan peserta,” tegasnya.
Meski ada penyesuaian untuk proses pelatihan, namun esensi pembekalan terhadap para calon manajer tetap sama. Agar tujuan membangun karakter, berintegritas, disiplin memiliki jiwa kepemimpinan, semangat bela negara, serta siap mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat bisa tercapai.
Hal yang membedakan lainnya, para peserta calon manajer diperkenankan saat ini menggunakan handphone pada waktu tertentu. Aturan tersebut adalah bentuk perhatian terhadap kondisi psikologis peserta dan aspirasi keluarga.
Selain itu, peserta juga diberikan kesempatan untuk menerima kiriman barang dari keluarga sesuai mekanisme yang diatur oleh masing-masing satuan pendidikan tempatnya menjalani pelatihan. “Kebijakan ini merupakan bentuk kepercayaan kepada peserta telepon genggam diharapkan digunakan untuk menjaga komunikasi positif dengan keluarga, memberi kabar yang baik serta memperkuat semangat peserta selama mengikuti pembekalan. Sedangkan kiriman barang untuk menjaga moril peserta tanpa menimbulkan kesenjangan bagi peserta lainnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, pelaksana juga telah menyiapkan jalur apabila peserta mengalami kendala selama pembekalan melalui pelatih, pengasuh, tenaga kesehatan, maupun pimpinan satuan pendidikan. “Setiap masukan dan kendala akan ditindaklanjuti dengan cepat. Kementerian pertahanan beserta seluruh panitia seleksi nasional akan terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan agar kegiatan ini berjalan lebih aman, proporsional, edukatif dan sesuai dengan tujuan program nasional,” ucapnya.
Adapun evaluasi dilakukan setelah rentetan insiden peserta latsarmil yang meninggal dunia, diawali Yonanda Muhammad Taufiq peserta latsarmil di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung pada Rabu (17/6/2026). Sehari selanjutnya ada Anisa Muyassaroh peserta latsarmil di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan yang meninggal dunia akibat heat stroke pada Kamis (18/6/2026).
Kemudian Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pendidikan latsarmil di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta meninggal dunia akibat penyakit tuberkulosis, Selasa (23/6/2026). Selanjutnya, Muhammad Rifki Renaldi peserta latsarmil di Satdik Yon Parako 465 Jakarta meninggal dunia setelah awalnya mengeluh sesak napas pada Jumat (26/6/2026) dini hari.
Insiden kelima menimpa Nola Dya Sari peserta latsarmil di Satuan Pendidikan (Satdik) C Kalimantan yang meninggal dunia setelah mengeluhkan kondisi kesehatannya usai mengikuti pelajaran di kelas, Jumat (26/6/2026) malam. (sic)