Naradaily-Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai risiko gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terpantau mencapai wilayah Bogor.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Fusia Meidiawaty di Cibinong, Minggu, mengatakan abu vulkanik mengandung partikel debu halus dan material silika yang dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama sistem pernapasan, mata, dan kulit.
“Abu vulkanik dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan seperti batuk, sesak napas, iritasi tenggorokan, serta memperberat kondisi asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK),” kata Fusia.
Menurut Fusia, paparan abu vulkanik juga berpotensi menyebabkan mata merah, perih, berair, dan terasa mengganjal. Kontak langsung dengan kulit dapat menimbulkan gatal maupun kemerahan.
Sejumlah kelompok juga perlu mendapat perhatian lebih selama terjadi paparan abu vulkanik, yakni bayi dan anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan penyakit jantung dan paru-paru kronis.
Untuk mengurangi risiko paparan, Dinkes Kabupaten Bogor mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Masker N95 menjadi pilihan yang disarankan atau setidaknya menggunakan masker medis dua lapis.
Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak selama sebaran abu masih terjadi. Pintu, jendela, dan ventilasi juga disarankan ditutup untuk mengurangi masuknya debu ke dalam rumah.
Untuk mencegah iritasi mata, warga disarankan menggunakan kacamata pelindung dan menghindari penggunaan lensa kontak. Jika mata terasa perih akibat paparan abu, mata dapat dibilas menggunakan air bersih mengalir dan tidak dianjurkan untuk dikucek.
“Bagi pengendara motor, gunakan helm dengan kaca pelindung atau kacamata serta masker saat berkendara,” ujarnya.
Dinkes Kabupaten Bogor juga meminta masyarakat melindungi sumber air dan menutup tempat penampungan air agar tidak tercemar endapan abu. Buah dan sayuran harus dicuci hingga bersih sebelum dikonsumsi.
Bagi penderita asma, PPOK, maupun gangguan jantung, Fusia mengingatkan agar obat-obatan yang biasa digunakan selalu tersedia. Mereka juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila kondisi kesehatan memburuk.
Masyarakat diminta segera mendatangi puskesmas, klinik, atau rumah sakit terdekat apabila mengalami sesak napas berat, nyeri dada, maupun iritasi mata dan kulit yang tidak kunjung membaik.
Dinkes Kabupaten Bogor memastikan fasilitas pelayanan kesehatan dapat diakses masyarakat yang membutuhkan penanganan medis. Selain puskesmas dan instalasi gawat darurat rumah sakit, masyarakat dapat menghubungi layanan Public Safety Center (PSC) 119 yang siaga selama 24 jam.
Fusia mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada serta mengikuti perkembangan informasi resmi mengenai aktivitas vulkanik dan sebaran abu Gunung Anak Krakatau. (kom)