Naradaily-Sutradara Yosep Anggi Noen mengungkapkan keterlibatan fotografer khusus dalam proses penggarapan film “Laut Bercerita”. Kehadiran fotografer tersebut ditujukan untuk membantu menghidupkan detail visual dalam film fiksi sejarah yang mengangkat tragedi penghilangan aktivis Indonesia pada era 1998.
Dalam proses produksinya, dua fotografer senior dilibatkan untuk memastikan penggambaran aktivitas jurnalistik pada masa lalu terlihat akurat di layar. Mereka membantu menghadirkan sudut pandang pengambilan gambar, gerak-gerik, hingga teknis kerja fotografer ketika meliput sebuah peristiwa.
Anggi mengatakan, keterlibatan fotografer tersebut juga berkaitan dengan penggambaran dua tokoh fotografer dalam cerita. Namun, identitas salah satu fotografer masih dirahasiakan dan masuk dalam kategori embargo, yaitu informasi yang belum boleh dipublikasikan sampai waktu yang telah ditentukan.
“Fotografernya aja dua khusus untuk mewakili dua tokoh fotografer. Satu ini dan satu yang rahasia. Apa namanya? Embargo, embargo itu sampai 29 Oktober,” kata Anggi Noen dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin.
Sebagai film bergenre periodik atau sejarah, Anggi menyebut tantangan utama yang dirasakan lebih banyak berasal dari proses kreatif. Salah satunya adalah menghadirkan kembali berbagai elemen visual masa lalu yang sudah sulit ditemukan pada masa sekarang.
Pencarian detail tersebut mencakup berbagai hal, mulai dari bentuk jalanan, ruangan, hingga pakaian yang sesuai dengan suasana pada masa yang menjadi latar cerita. Menurut Anggi, seluruh detail tersebut membutuhkan usaha besar agar tampilan film dapat menggambarkan periode sejarah secara meyakinkan.
Untuk mendapatkan visual yang sesuai, kru bahkan melakukan pendekatan dengan membuat sejumlah objek secara nyata. Anggi bergurau bahwa cara tersebut membuat timnya bertingkah seperti sutradara Christopher Nolan yang dikenal kerap menggunakan objek nyata dalam produksi film dibandingkan mengandalkan efek komputer.
Salah satu contohnya adalah pembuatan kebun jagung yang menjadi bagian dari kebutuhan visual film. Kru menanam jagung di lahan seluas sekitar 2.000 hingga 3.000 meter persegi selama berbulan-bulan sebelum proses syuting dimulai agar tinggi tanaman sesuai dengan kebutuhan adegan.
“Kita nanam jagung, dan kita nanam jagung banyak kayak sok-sokan kayak Christopher Nolan gitu,” ujar Anggi Noen, merujuk latar adegan kebun jagung dalam film Nolan, Interstellar (2014).
“Tiga bulan sebelum (syuting) kita udah nanam-nanam gitu. Terus pas kita datang, kita syuting, pas jagungnya itu muncul, bagus juga wah, lumayan bisa untuk konsumsi waktu break syuting kan, eh ternyata yang ditanam jagung ternak, untuk sapi,” kata Anggi.
Selain tantangan dalam menghadirkan suasana masa lalu, proses pengambilan gambar juga menghadapi kendala cuaca. Anggi mengatakan kondisi panas ekstrem di Semarang sempat menguji kesabaran kru pada hari-hari awal syuting sekitar Agustus hingga September 2025.
“Semarang itu panas, Mas. Panas banget gitu. Jadi stresnya itu dapat, Mas ya. Saya hari pertama kayak mau ngamuk aja gara-gara panas enggak umum,” ucap Anggi.
Kondisi tersebut akhirnya dapat diatasi setelah produser mendatangkan penyejuk udara portabel langsung dari Jakarta. Langkah itu dilakukan karena persediaan alat pendingin yang dapat disewa di wilayah Semarang saat itu telah habis disewakan.
Meski menghadapi sejumlah tantangan selama produksi, Anggi bersyukur proses praproduksi hingga pengambilan gambar dapat berjalan lancar tanpa gangguan berarti. Menurutnya, tim yang solid serta dukungan orang-orang berpengalaman menjadi salah satu kunci dalam menyelesaikan film yang diadaptasi dari novel populer karya Leila S. Chudori berjudul “Laut Bercerita” tersebut.
Rumah produksi Pal8 Pictures memilih 29 Oktober sebagai tanggal penayangan film “Laut Bercerita”. Pemilihan tanggal tersebut dilakukan agar kehadiran film bertepatan satu hari setelah peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, sekaligus membawa semangat merayakan perjuangan pemuda di Tanah Air.
Produser Eksekutif film “Laut Bercerita” sekaligus Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk. Arif Zulkifli mengatakan pihaknya ingin menularkan keberanian, bukan ketakutan, menjelang penayangan film di bioskop pada 29 Oktober.
“Kenyataannya juga enggak ada gangguan dalam proses produksi film ini, gitu. Jadi, saya percaya bahwa ketakutan itu menular dan kami tidak mau menularkan sesuatu yang tidak baik, itu aja. Keberanian juga menular, keberaniannya juga menular, sama,” papar produser eksekutif yang biasa disapa Azul itu. (kom)