Naradaily-Rombongan bus suporter Persija Jakarta, The Jakmania Cikampek, menjadi korban aksi pelemparan oleh orang tidak dikenal di Tol Palikanci KM 200 pada Senin (12/10) dini hari. Insiden tersebut mengakibatkan sejumlah anggota mengalami luka fisik dan trauma psikologis.
Peristiwa penyerangan terjadi saat rombongan dalam perjalanan pulang menuju Cikampek setelah menyaksikan pertandingan Persija Jakarta melawan PSIM Jogja di Bantul pada Sabtu (10/10). Aksi anarkis tersebut sangat disayangkan karena di dalam bus terdapat kelompok suporter yang rentan, termasuk perempuan, bayi, dan balita.
“Saat ini, kami sedang fokus mengurus perawatan terhadap anggota The Jakmania Cikampek yang mengalami luka-luka atas insiden penyerangan semalam,” tulis pernyataan resmi The Jakmania Cikampek, Senin (12/10).
Menyikapi kejadian tersebut, pengurus The Jakmania Cikampek meminta seluruh anggotanya untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi balasan. Mereka juga mengimbau para suporter agar tidak terpancing emosi maupun terprovokasi oleh insiden yang membahayakan nyawa tersebut.
Sementara itu, Pengurus Pusat (PP) The Jakmania mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus penyerangan bus suporter di Tol Palikanci. PP The Jakmania menekankan bahwa penegakan hukum terhadap kekerasan dalam sepak bola harus dilakukan tanpa tebang pilih, baik korbannya merupakan suporter, pemain, maupun ofisial.
“Tidak ada rivalitas sepak bola yang dapat membenarkan tindakan yang membahayakan keselamatan orang lain,” tegas pernyataan resmi PP The Jakmania.
PP The Jakmania menegaskan bahwa keselamatan setiap individu harus tetap menjadi prioritas utama di atas kepentingan rivalitas olahraga. Penanganan kasus ini diharapkan dapat memberikan keadilan bagi para korban sekaligus mencegah terulangnya aksi kekerasan serupa.
Insiden penyerangan bus The Jakmania Cikampek di Tol Palikanci tersebut menambah daftar kekerasan di jalan raya yang menyasar elemen sepak bola. Sebelumnya, bus tim Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung U-18 juga dilaporkan mengalami penyerangan serupa di Rest Area KM 360 Batang, Jawa Tengah.
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya perlindungan terhadap suporter dan seluruh pihak yang terlibat dalam sepak bola. Rivalitas antarsuporter tidak seharusnya berujung pada tindakan kekerasan yang mengancam keselamatan jiwa, terlebih ketika terdapat perempuan dan anak-anak dalam rombongan. (kom)