Naradaily-Malaysia menyatakan kesiapannya untuk kembali membantu Indonesia menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap lintas negara. Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, menegaskan komitmen tersebut setelah melihat berbagai kendala yang dihadapi dalam penanganan kebakaran di lapangan, termasuk jarak pandang yang rendah dan tidak adanya awan untuk mendukung operasi hujan buatan.

Ahmad Zahid mengatakan, komitmen bantuan Malaysia telah dibahas dalam rapat kabinet pada Jumat (23/10/2026). Ia menegaskan bahwa Malaysia siap memberikan bantuan semaksimal mungkin kepada Indonesia untuk mengatasi kebakaran dan kabut asap yang dampaknya turut dirasakan negara-negara tetangga.

Menurut Ahmad Zahid, Indonesia sebenarnya telah mengerahkan banyak personel dan peralatan untuk menangani kebakaran. Namun, kondisi di lapangan membuat sejumlah upaya pemadaman belum dapat berjalan secara optimal.

“Dari segi personel, Indonesia memiliki lebih dari 19.000 anggota. Peralatan, termasuk pesawat dan helikopter yang dikerahkan, juga banyak,” kata Ahmad Zahid, dikutip dari Sinar Harian, Minggu (25/10/2026).

Ia menjelaskan, salah satu kendala utama adalah rendahnya jarak pandang yang membuat pesawat tidak dapat terbang untuk mendukung operasi pemadaman. Selain itu, upaya hujan buatan juga belum bisa dilakukan karena tidak terdapat awan di wilayah terdampak.

“Namun, ada kendala karena pesawat tidak dapat terbang akibat jarak pandang yang terlalu rendah. Selain itu, hujan buatan juga tidak dapat dilakukan karena tidak ada awan di wilayah tersebut,” ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan Ahmad Zahid setelah menghadiri acara penyerahan hadiah Program Lari Jembatan Sultan Nazrin Shah di Bagan Datuk, Malaysia, Minggu.

Ahmad Zahid juga menyampaikan simpati Malaysia terhadap kondisi yang dihadapi Indonesia akibat kebakaran dan kabut asap. Ia berharap persoalan tersebut dapat segera diatasi sehingga dampaknya tidak semakin meluas ke negara-negara tetangga.

Menurutnya, kabut asap berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat Malaysia, terutama warga yang memiliki alergi atau sensitif terhadap pencemaran udara. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian Malaysia di tengah meluasnya dampak kabut asap lintas negara.

Ia mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai bantuan untuk menangani karhutla telah dilakukan secara langsung dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ahmad Zahid menyebut kedua pemimpin Indonesia itu memberikan tanggapan positif terhadap pembicaraan tersebut.

Meski demikian, keterbatasan jarak pandang dan tidak adanya awan masih menjadi tantangan dalam penanganan kebakaran dan kabut asap. Malaysia pun menegaskan kesiapannya untuk terus membantu Indonesia mengatasi karhutla demi mengurangi dampak pencemaran udara terhadap masyarakat di kawasan.