Naradaily-Kenaikan harga plastik mulai dirasakan di berbagai pasar tradisional dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan ini terjadi seiring terganggunya rantai pasok global akibat konflik di sejumlah wilayah penghasil bahan baku.
Indonesia yang masih bergantung pada impor turut terdampak kondisi tersebut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai impor plastik dan produk turunannya mencapai sekitar US$ 873,2 juta atau setara Rp14,78 triliun pada Februari 2026.
Dari jumlah tersebut, China menjadi pemasok terbesar dengan nilai sekitar US$ 380,1 juta, disusul Thailand sebesar US$ 82,7 juta, serta Korea Selatan mencapai US$ 66,7 juta. Pasokan juga berasal dari negara lain seperti Amerika Serikat dan kawasan Timur Tengah.
Tekanan terhadap pasokan global ini membuat harga plastik di dalam negeri ikut melonjak. Sejumlah pedagang menyebut kenaikan harga sudah mencapai sekitar 50 persen dibandingkan sebelumnya.
Sebagai gambaran, harga plastik kresek yang sebelumnya berada di kisaran Rp10.000 per pack kini naik menjadi sekitar Rp15.000. Sementara jenis lainnya mengalami kenaikan dari Rp20.000 menjadi Rp25.000.
Kenaikan ini berdampak langsung pada pedagang yang bergantung pada plastik sebagai kemasan utama. Biaya operasional yang meningkat berpotensi mendorong penyesuaian harga jual kepada konsumen.
Selain itu, karena plastik merupakan turunan dari minyak bumi, kenaikan harga energi global turut memperbesar tekanan biaya produksi. Kondisi ini membuat harga plastik semakin sensitif terhadap gejolak internasional.
Jika situasi ini terus berlanjut, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan oleh pedagang pasar, tetapi juga sektor industri dan pelaku usaha kecil yang menggunakan plastik dalam aktivitas sehari-hari. (Syafa)