Naradaily-Program Pengarsipan Lengkung Seni resmi memulai episode perdananya dengan menghadirkan sosok yang jejak kreatifnya tak pernah berjalan lurus, tetapi selalu melengkung, menembus batas disiplin Pieter Redmiller Gunawan, atau yang lebih dikenal publik seni sebagai Peter Rhian. Narasi perjumpaan ini bukan sekadar pengenalan tamu, melainkan pembukaan arsip perjalanan seorang seniman yang menempatkan eksplorasi sebagai rumah pulang.
Lahir di Bandung pada 1981, Pieter tumbuh dalam lanskap budaya yang penuh dinamika, sebuah kota yang membentuk sensibilitas visualnya sejak dini. Ia kemudian menempuh pendidikan magister Ilmu Desain di Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu pusat pemikiran seni dan desain paling berpengaruh di Indonesia. Dari lingkungan akademik itulah ia mengasah ketertarikan pada eksperimen visual, permainan material, serta pendekatan multidisipliner yang mempertemukan desain, seni rupa kontemporer, dan refleksi mendalam atas budaya urban.
Namun perjalanan Pieter tidak berhenti pada karya. Ia menjembatani ruang praktik dengan ruang edukasi sebagai dosen di Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Di ruang kelas, ia tidak hanya menanamkan teknik, tetapi membuka ruang dialog tentang filosofi desain, proses kreatif, hingga ekosistem seni yang terus berubah. Ia mendidik bukan untuk mencetak seniman yang meniru, melainkan generasi yang mampu membaca zaman dan meresponsnya secara kritis.
Kiprah Pieter yang merangkai seni, riset, arsip visual, dan pendidikan menjadikannya figur penting dalam percakapan seni rupa kontemporer Indonesia. Itulah alasan episod perdana Pengarsipan Lengkung Seni memilihnya: sebagai titik awal untuk membuka kanal dokumentasi yang bukan sekadar merekam, tetapi juga menghubungkan gagasan, perjalanan, dan sejarah seni yang terus bergerak.
Episode perdana ini mengajak penonton menelusuri cara Pieter melihat dunia—dari praktik studio, proses penciptaan, hingga pemahaman mendalamnya terhadap lanskap seni hari ini. Sebuah arsip hidup tentang bagaimana seorang seniman membangun bahasa visualnya, mempertanyakan bentuk-bentuk lama, dan mencipta ruang baru bagi kemungkinan.
Melalui program ini, Pengarsipan Lengkung Seni berharap menjadi jembatan antara karya, pemikiran, dan publik. Dan bersama Pieter Redmiller Gunawan, bab pertama itu resmi dibuka. (kom)