Naradaily-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia perlu mengembangkan upaya pencegahan dan penanggulangan virus Nipah secara lebih jauh. Hal ini disampaikan karena Indonesia dinilai berisiko menjadi hotspot virus Nipah akibat tingginya keanekaragaman hayati, khususnya populasi kelelawar buah yang melimpah dan tersebar luas.
“Kita merupakan negara dengan megabiodiversity, yang mempunyai keanekaragaman yang sangat tinggi, tapi tentunya ini mempunyai salah satu potensi risiko dan memiliki distribusi luas terkait dengan fruit bat ini, yang merupakan reservoir alami dari virus Nipah,” kata Kepala Organisasi Riset Kesehatan sekaligus Peneliti Ahli Utama Virologi BRIN, Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Indi menjelaskan bahwa virus Nipah memiliki keragaman genetik, yaitu NiV-Malaysia (NiV-M) dan NiV-Bangladesh (NiV-B). Berdasarkan tingkat keparahan, NiV-B memiliki tingkat kematian hingga 75 persen, sementara NiV-M sekitar 40 persen. Temuan eksperimental menunjukkan bahwa meskipun replikasi NiV-B lebih lambat, proses shedding atau pelepasan partikel virus dari manusia atau hewan terinfeksi berlangsung lebih cepat.
Ia juga mengungkapkan adanya perbedaan klinis antara kedua jenis virus tersebut. NiV-B kerap menimbulkan penyakit pernapasan dan ensefalitis serta berkaitan dengan penularan antar-manusia. Sementara itu, NiV-M lebih sering menyebabkan ensefalitis. Menurutnya, temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa keberagaman genetik virus Nipah memengaruhi tingkat virulensi, transmisi, serta respons imun, sehingga menegaskan pentingnya pengembangan vaksin, diagnostik, dan terapi berbasis strain.
Berdasarkan data hingga 2024, kasus virus Nipah yang dilaporkan secara global mencapai 754 kasus, dengan jumlah kematian sekitar 435 kasus. Dengan demikian, rasio fatalitas rata-rata virus Nipah berada di angka 58 persen.
Indi menjelaskan bahwa reservoir utama virus Nipah adalah kelelawar buah, sementara babi berperan sebagai inang perantara. Dalam wabah Nipah di Malaysia, babi menjadi salah satu penyebab utama penularan virus ke manusia. Selain itu, sejumlah hewan domestik lain seperti anjing juga dapat terpapar, sementara di Bangladesh dilaporkan sapi dan kambing turut terdampak.
Penularan virus Nipah, lanjutnya, dapat terjadi melalui kontaminasi makanan atau lingkungan oleh urine atau saliva kelelawar. Pada tahun 1998 di Malaysia, penyebaran virus terjadi dari buah yang dimakan babi dan kemudian menular ke manusia. Di India dan Bangladesh, penyebaran terjadi melalui nira kurma yang terkontaminasi, di mana buah tergigit dan terjadi kontak dengan hewan ternak, sebelum akhirnya muncul penularan antar-manusia setelah infeksi awal.
“Nah beberapa hal yang menjadi pendorong mungkin adanya deforestasi, kemudian juga perubahan iklim, ekspansi pertanian dan juga beberapa diantaranya mungkin peningkatan kontak erat antara kelelawar dan manusia,” katanya.
Sebagai langkah mitigasi, Indi menekankan pentingnya surveilans untuk menemukan kasus sedini mungkin sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi wabah. Surveilans tersebut perlu dilakukan dengan pendekatan One Health, yakni kolaborasi lintas sektor yang mencakup kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Ia juga mengakui bahwa tantangan utama saat ini adalah penemuan kasus yang masih bersifat sporadis, sehingga data epidemiologis terkait virus Nipah masih sangat terbatas. Selain itu, kapasitas diagnostik laboratorium belum merata dan tingkat kesadaran publik terhadap virus ini masih perlu ditingkatkan.
“Nah, arah penelitian ke depan tentunya kita akan melakukan pemetaan distribusi virus Nipah ini di Indonesia, juga studi ekologi dari reservoir, dan juga melakukan analisis genomik untuk memahami evolusi dan transmisi dari virus itu,” ujar Indi. (kom)