Naradaily-Praktisi sepak bola sekaligus mantan pelatih tim nasional Indonesia, Indra Sjafri, mengungkapkan lima langkah strategis yang perlu dilakukan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk membangun sepak bola nasional agar mampu bersaing dan tampil di ajang Piala Dunia. Menurutnya, pembenahan mendasar masih sangat dibutuhkan agar Indonesia memiliki peluang realistis menembus panggung dunia, setidaknya pada Piala Dunia 2034.

Langkah pertama yang disoroti Indra adalah pembangunan infrastruktur sepak bola yang merata dan tidak hanya terpusat di kota-kota besar. Ia menekankan pentingnya perbaikan lapangan sepak bola hingga ke daerah dan desa sebagai basis utama pembinaan pemain usia dini. “Infrastruktur bukan hanya membangun stadion di kota, lapangan sepak bola di desa juga harus diperbaiki,” kata Indra dalam Dialog Meja Bundar bertema “Piala Dunia 2026, pers, dan peradaban publik kita, siaran olahraga sebagai ruang edukasi, literasi, dan penguatan nilai kepublikan” di Auditorium Bung Karno LPP TVRI, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Langkah kedua, menurut Indra, adalah pembaruan kurikulum sepak bola nasional agar selaras dengan perkembangan dan tren permainan di level global. Ia menilai kurikulum yang adaptif menjadi kunci agar metode latihan dan pendekatan taktik di Indonesia tidak tertinggal dibandingkan negara-negara maju di dunia sepak bola.

Selanjutnya, pria asal Sumatera Barat tersebut menekankan pentingnya memperbanyak jumlah pelatih berkualitas dan berlisensi A Pro sebagai langkah ketiga. Peningkatan kuantitas dan kualitas pelatih dinilai sebagai prasyarat utama kemajuan sepak bola nasional. “Indonesia baru punya 44 orang pelatih yang berlisensi A Pro, kalau dibandingkan dengan Jepang misalnya, mereka sudah punya ribuan pelatih berlisensi tersebut,” ujarnya.

Langkah keempat adalah membangun jalur pembinaan pemain yang jelas dan terstruktur, mulai dari usia dini hingga level profesional. Sistem pembinaan yang berjenjang diyakini mampu menciptakan kesinambungan dalam pengembangan talenta dan meminimalkan potensi pemain berbakat terputus di tengah jalan.

Sebagai langkah kelima, Indra menegaskan bahwa penguatan kompetisi usia muda harus menjadi prioritas utama sebagai fondasi regenerasi jangka panjang. Kompetisi yang rutin dan berkualitas akan memperkaya jam terbang sekaligus membentuk mental bertanding pemain muda. Ia pun mengapresiasi PSSI yang dinilai sudah mulai menjalankan langkah tersebut. “Kalau lima hal ini diperbaiki, baru cita-cita 2034 bisa dibicarakan,” kata pria berusia 63 tahun itu.

Selain itu, Indra juga menilai siaran Piala Dunia 2026 melalui TVRI berpotensi menjadi sarana edukasi bagi pelatih, praktisi, dan masyarakat luas dalam memahami perkembangan sepak bola dunia. Ia berharap momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempercepat peningkatan literasi dan kualitas sepak bola nasional. (kom)