Naradaily-Sejumlah wilayah berisiko mengalami karhutla jelang musim kemarau yang dibarengi dengan El Nino. Untuk mengantisipasi karhutla meluas, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan mulai 22 April hingga 30 November 2026.
Ini merupakan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diprediksi datang lebih cepat dan lebih kering akibat potensi El Nino. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel M Iqbal Alisyahbana mengatakan, penetapan status siaga tersebut telah ditandatangani langsung oleh Gubernur Sumsel.
“Untuk Sumatera Selatan sendiri sudah menetapkan status siaga karhutla sejak 22 April hingga 30 November. Pertimbangannya berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang, lebih cepat datang, dan lebih kering,” jelasnya dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (24/4/2026).
Ia menjelaskan, penetapan status siaga ini bertujuan mempercepat akses bantuan dari pemerintah pusat serta memperkuat koordinasi penanggulangan di lapangan, menyusul mulai meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah. Selain di tingkat provinsi, Kabupaten Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir (OKI) juga telah menetapkan status siaga serupa karena perkembangan hotspot yang mulai terpantau.
Kondisi kemarau yang diprediksi lebih ekstrem tahun ini, lanjutnya, menuntut penanganan yang lebih luas dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan dunia usaha. “Tantangan ke depan terkait karhutla akan dihadapi dengan memperkuat koordinasi. Meski ada keterbatasan anggaran, penanganan tidak boleh menurun,” ujarnya.
Sebagai langkah penanganan, kata dia, Pemprov Sumsel telah mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk dukungan helikopter patroli dan water bombing. Selain itu, pemerintah daerah juga mengusulkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna membasahi lahan, khususnya lahan gambut, agar cadangan air tetap tersedia saat puncak musim kemarau.
“Kami juga mengajukan permohonan OMC untuk membasahi lahan gambut, sehingga saat puncak kemarau masih tersedia sumber air,” imbuhnya. Pihaknya juga mengimbau perusahaan untuk mengaktifkan kembali sarana penanggulangan kebakaran, seperti regu pemadam, embung, dan kanal di wilayah konsesi masing-masing.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam aktivitas ekonomi yang menggunakan api, guna mencegah terjadinya karhutla. “Musim kemarau diperkirakan datang lebih cepat dan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga perlu diwaspadai bersama,” ulasnya lagi. (sic)