Naradaily-Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi semula, khususnya bagi Amerika Serikat dan Israel, seiring penerapan pengaturan keamanan baru di kawasan Teluk Persia.
“Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi semula, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel,” demikian pernyataan IRGC dalam unggahan di platform media sosial X, Minggu (5/4/2026).
Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa Angkatan Laut IRGC Iran kini berada pada tahap akhir persiapan operasional untuk membentuk “tatanan baru untuk Teluk Persia”.
Langkah ini muncul beberapa hari setelah parlemen Iran menyetujui di tingkat komite rancangan undang-undang yang mengatur penerapan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Media Iran melaporkan bahwa usulan tersebut mencakup kewajiban pembayaran biaya lintasan menggunakan mata uang nasional Iran, rial, serta larangan transit bagi kapal dari Amerika Serikat dan Israel, termasuk pembatasan terhadap negara-negara yang terlibat dalam sanksi sepihak terhadap Iran.
Rancangan aturan itu juga memuat ketentuan terkait kedaulatan Iran atas selat, kewenangan angkatan bersenjata, keamanan maritim, isu lingkungan, serta kerja sama hukum dengan Oman.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat sejak serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta wilayah lain seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan terhadap pasar global dan penerbangan. (kom)