Naradaily-Di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, berdiri sebuah rumah yang tak lagi sekadar hunian. Kediaman pribadi pelukis dunia Basoeki Abdullah kini menjelma menjadi museum tiga lantai yang menyimpan perjalanan hidup, gagasan, dan karya emas sang maestro.
Lantai pertama membawa pengunjung lebih dekat pada sisi personal Basoeki Abdullah. Tersimpan perpustakaan berisi sekitar 3.000 buku, koleksi busana dari berbagai negara, hingga kamar tidur yang tetap dipertahankan keasliannya sebagai saksi wafatnya beliau pada 1993. Ruangan ini bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga ruang doa dan sumber inspirasi intelektual yang melahirkan banyak karya lukisnya.
Perjalanan berlanjut ke lantai dua. Di sini, pengunjung disambut 164 patung dari beragam material serta berbagai atribut seni pertunjukan seperti topeng dan wayang yang sangat ia gemari. Pada ruang ini pula tergambar silsilah keluarga Basoeki Abdullah yang kuat dengan tradisi pejuang dan seni, mulai dari kakeknya Dr. Wahidin Sudirohusodo hingga kedua orang tuanya yang mahir melukis alam dan membatik.
Lantai ketiga menjadi penutup perjalanan yang berkesan. Sebuah lukisan monumental pemimpin Gerakan Non-Blok berukuran 7 x 2 meter dipamerkan, menegaskan kedekatan sang pelukis dengan tokoh-tokoh besar dunia sekaligus memperlihatkan pengaruhnya di panggung internasional.
Kini Museum Basoeki Abdullah berdiri sebagai warisan budaya yang menghubungkan masyarakat dengan dedikasi, nasionalisme, dan semangat berkarya sang maestro. Melalui koleksi pribadi serta karya monumentalnya, museum ini tidak hanya mengenang prestasi seni di tingkat global, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk menjaga akar budaya dan semangat perjuangan bangsa.(Khalifah Khairunnisa)