Naradaily-Pemerintah China kembali menyerukan penghentian operasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di tengah ancaman Presiden AS Donald Trump yang ingin meningkatkan serangan.
“Cara militer tidak menyelesaikan masalah mendasar. Meningkatkan konflik tidak menguntungkan pihak mana pun, sekali lagi kami mendesak pihak-pihak yang berkonflik untuk segera menghentikan operasi militer,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (2/4/2026).
Mao Ning juga mendorong agar upaya damai segera ditempuh melalui jalur diplomasi. “Penyelesaian masalah adalah melalui dialog dan negosiasi demi mencegah pukulan yang lebih serius terhadap ekonomi dunia dan keamanan energi global,” ungkap Mao Ning.
Ia menilai akar gangguan di Selat Hormuz berasal dari operasi militer ilegal AS-Israel terhadap Iran. “Hanya dengan mengakhiri aksi militer dan memulihkan perdamaian dan stabilitas di Teluk, jalur pelayaran internasional dapat dibuka dan aman. Komunitas internasional perlu bekerja sama untuk deeskalasi guna mencegah gejolak regional lebih lanjut yang dapat berdampak pada ekonomi global dan keamanan energi,” tegas Mao Ning.
Menurutnya, Selat Hormuz dan perairan di sekitarnya merupakan jalur perdagangan global yang sangat vital bagi distribusi barang dan energi. “Semua mata tertuju pada apakah stabilitas dapat kembali ke Selat Hormuz dan apakah lalu lintas akan segera pulih. Kuncinya terletak pada penghentian aksi militer,” tukas Mao Ning.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat hampir menyelesaikan tujuan militernya di Iran dan akan meningkatkan tekanan dalam waktu dekat. “Kami akan menyerang mereka sangat keras dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Kami akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu, tempat mereka seharusnya berada,” kata Trump dalam pidato tentang Operasi Epic Fury, Rabu (1/4).
Trump juga menyebut pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, namun memperingatkan bahwa jika tidak ada kesepakatan, AS akan menyerang seluruh pembangkit listrik Iran. “Kami belum menyerang ladang minyak mereka, meski itu target paling mudah, karena itu tak memberi mereka peluang untuk bertahan. Namun, kami bisa menyerangnya dan itu akan hilang,” katanya.
Ia menambahkan bahwa AS hampir tidak lagi mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak akan melakukannya di masa depan. Trump juga menyebut Iran telah “hancur secara militer dan ekonomi” serta mendesak negara lain untuk menjaga jalur pelayaran tersebut.
Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei membantah bahwa Teheran meminta gencatan senjata kepada AS. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menyatakan bahwa dialog dengan AS bukanlah perundingan resmi, melainkan hanya pertukaran pesan terbatas baik secara langsung maupun melalui perantara di kawasan.
Ketegangan meningkat sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Sebanyak 13 personel militer AS dilaporkan tewas dan sekitar 303 lainnya mengalami luka-luka sejak operasi militer tersebut dimulai. (kom)