Naradaily – Ramadan tahun ini hadir dengan nuansa berbeda bagi warga Gaza. Setelah berbulan-bulan dilanda konflik, wilayah tersebut kini memasuki masa gencatan senjata yang dimulai pada 10 Oktober 2025. Meski kondisi relatif lebih tenang dibanding puncak pertempuran, rasa aman sepenuhnya belum dirasakan masyarakat.

Di Kamp Pengungsi Bureij, Gaza tengah, seorang ibu bernama Maisoon al-Barbarawi menjalani Ramadan bukan di rumah, melainkan di tenda pengungsian sederhana. Bersama dua putranya yang berusia 15 dan 9 tahun, ia berusaha menghadirkan suasana hangat di tengah keterbatasan.

Tenda yang mereka tempati dihiasi dekorasi buatan tangan warga kamp. Lentera kecil digantung sebagai simbol penyambutan bulan suci. Bagi Maisoon, sentuhan sederhana itu penting agar anak-anaknya tetap merasakan kegembiraan Ramadan.

“Meski kami tinggal di tenda, saya ingin anak-anak tetap merasakan suasana Ramadan dan kebahagiaan seperti sebelumnya,” ujar Maisoon.

Sejak rumah mereka di wilayah tenggara Gaza rusak pada awal konflik, keluarga ini telah beberapa kali berpindah tempat sebelum akhirnya menetap di Bureij. Ramadan kali ini menjadi yang ketiga bagi mereka dalam situasi pengungsian.

Walaupun gencatan senjata membawa ketenangan relatif, suara tembakan sesekali masih terdengar. Warga menyadari situasi dapat berubah kapan saja.

“Keadaannya memang lebih tenang dibanding sebelumnya, tetapi kami tetap waspada karena semuanya bisa berubah sewaktu-waktu,” tuturnya.

Dibanding masa eskalasi yang menelan puluhan ribu korban jiwa warga Palestina, kondisi saat ini sedikit lebih stabil. Namun bayang-bayang konflik belum sepenuhnya hilang. Tahun lalu, pertempuran kembali pecah pada pekan kedua Ramadan, menyebabkan perbatasan ditutup dan distribusi bantuan terhenti. Krisis pangan pun sempat berlangsung berbulan-bulan.

Trauma akibat kelangkaan makanan masih membekas. Banyak keluarga kini menyimpan persediaan seperti tepung dan bahan makanan kering untuk berjaga-jaga. Bantuan kemanusiaan memang mulai mengalir lebih baik dibanding masa puncak konflik, tetapi distribusinya belum sepenuhnya stabil.

Aktivitas pasar di sejumlah wilayah Gaza perlahan kembali bergerak. Meski bahan kebutuhan tersedia, harga masih tinggi sementara daya beli masyarakat sangat terbatas. Sebagian besar warga pun tetap bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Di tengah segala keterbatasan itu, Ramadan tetap dimaknai sebagai momen spiritual yang menguatkan harapan. Menjelang berbuka, warga kamp saling membantu menyiapkan roti, membagikan kurma, dan air minum. Kebersamaan menjadi kekuatan utama untuk bertahan.

Bagi Maisoon dan ribuan keluarga lainnya, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Ia menjadi simbol keteguhan dan doa agar perdamaian benar-benar terwujud, sehingga mereka dapat kembali hidup dengan rasa aman yang sesungguhnya. (