Naradaily-Republik Islam Iran tengah bersiap melepas pemimpin tertingginya, Ali Khamenei, dalam prosesi pemakaman kenegaraan yang diperkirakan menjadi salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah modern negara tersebut. Setelah wafat akibat serangan udara yang mengguncang kawasan pada akhir Februari 2026, jenazah sang Rahbar dijadwalkan dimakamkan di Kota Suci Mashhad, Rabu (4/3/2026).

Sejak fajar, jutaan warga berpakaian hitam memadati jalanan ibu kota Teheran untuk memberikan penghormatan terakhir. Prosesi penghantaran jenazah dimulai dari Universitas Teheran dan bergerak menuju Alun-Alun Azadi, menciptakan lautan manusia yang larut dalam suasana duka.

Peti jenazah yang diselimuti bendera Iran diarak menggunakan truk terbuka, diiringi tangisan massa serta lantunan slogan religius dan politik. Sejumlah petinggi militer dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) bersama pejabat tinggi dari negara-negara sekutu turut hadir dalam penghormatan terakhir tersebut.

Mashhad dipilih sebagai lokasi pemakaman karena memiliki makna spiritual mendalam. Jenazah Ali Khamenei akan dimakamkan di kompleks Makam Imam Reza, situs paling suci bagi umat Muslim Syiah di Iran. Pemakaman di tempat tersebut dipandang sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas pengabdian spiritual dan politiknya selama memimpin Iran.

Upacara pemakaman rencananya akan dipimpin jajaran ulama senior (Marja’) yang membacakan doa jenazah khusus di pelataran emas kompleks tersebut. Pemerintah Iran juga menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari, dengan penutupan kantor pemerintahan, sekolah, serta pusat bisnis selama satu pekan sebagai bentuk penghormatan.

Di luar negeri, prosesi simbolis dilaporkan berlangsung di sejumlah wilayah dengan basis pendukung kuat, seperti Baghdad di Irak dan Beirut di Lebanon.

Mengingat wafatnya Khamenei terjadi di tengah eskalasi konflik militer yang memanas, otoritas Iran menetapkan status siaga satu. Unit pertahanan udara dilaporkan bersiaga penuh di sekitar jalur prosesi pemakaman di Mashhad guna mengantisipasi kemungkinan serangan susulan selama upacara berlangsung.

Hingga saat ini, dewan ahli di Teheran masih menggelar pertemuan tertutup untuk menentukan sosok penerus yang akan mengisi jabatan Pemimpin Tertinggi Iran di tengah masa transisi yang dinilai krusial. (Khalifah Khairunnisa)