Naradaily-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, meminta para penerima Beasiswa Garuda untuk meninggalkan sikap manja dan membangun mental petarung selama menempuh pendidikan di luar negeri maupun saat kembali mengabdi di Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Orientasi Program SMA Unggul Garuda Transformasi dan Pembekalan Batch 1 Awardee Beasiswa Garuda Tahun 2026 di Jakarta, Kamis. Dalam kesempatan itu, Mendiktisaintek menyoroti fenomena lulusan penerima beasiswa luar negeri yang memilih tidak kembali ke Tanah Air dengan alasan keterbatasan fasilitas maupun minimnya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahlian mereka.
Menurut Brian, alasan tersebut tidak dapat dibenarkan karena para penerima beasiswa merupakan putra-putri terbaik bangsa yang seharusnya mampu bersaing dan menciptakan peluang baru di Indonesia, bukan hanya menunggu fasilitas dari negara.
“Kalau anda terbaik, kenapa anda harus takut bertarung di Indonesia melawan yang tidak bisa ke luar negeri? Jadi jangan takut, jangan nanti setelah lolos (beasiswa) mengeluh tidak ada yang memfasilitasi. Kalau tidak ada bidangnya yang sesuai, anda buat di Indonesia,” ujar Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Brian juga membagikan pengalamannya ketika menempuh pendidikan di Jepang. Ia mengaku tidak memperoleh beasiswa dari Pemerintah Indonesia, melainkan mencari beasiswa secara mandiri dari Pemerintah Jepang sambil bekerja serabutan sebagai petugas kebersihan kereta api untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pengalaman bekerja membersihkan gerbong kereta pada malam hari tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting mengenai daya juang dan kemandirian. Karena itu, ia mengingatkan para mahasiswa agar tidak mudah mengeluh hanya karena persoalan kecil, termasuk keterlambatan pencairan dana beasiswa selama satu atau dua hari.
Selain membangun ketahanan mental, Mendiktisaintek juga mengingatkan para penerima Beasiswa Garuda agar tidak terjebak dalam kesombongan intelektual atau sindrom the smartest in the room.
Menurut Brian, merasa diri paling pintar justru dapat menjadi awal dari masalah besar karena akan melahirkan mentalitas yang rapuh ketika menghadapi tekanan akademik di kampus-kampus terbaik dunia.
Sebagai bekal menghadapi tantangan pendidikan dan kehidupan di luar negeri, Brian memperkenalkan tiga pilar karakter utama yang disingkat menjadi PPG, yakni Perseverance atau ketekunan jangka panjang, Persistence atau kegigihan untuk bangkit setelah gagal, serta Grit atau daya juang tanpa mengenal lelah.
Menurut Mendiktisaintek, individu yang memiliki karakter PPG akan lebih fokus mencari solusi dibandingkan hanya mengeluhkan keadaan. Ia bahkan menantang para penerima beasiswa untuk mandiri dengan mencari beasiswa jenjang S2 langsung dari profesor di luar negeri tanpa kembali bergantung pada fasilitas pemerintah Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan sarjana.
“Terakhir saya kasih pesan, jadilah orang-orang yang humble, jadilah orang yang rendah hati. Orang-orang hebat itu ternyata adalah mereka yang tidak banyak drama, tidak banyak tampil, melainkan mereka yang bekerja dalam ketekunan,” tutur Mendiktisaintek Brian Yuliarto. (kom)