Naradaily-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memastikan akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu tetap terjaga, meskipun terjadi peningkatan jumlah mahasiswa tiap tahunnya.
Kemdiktisaintek meningkatkan anggaran Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Pada 2020, anggaran KIP Kuliah tercatat sebesar Rp6,5 triliun.
Anggaran tersebut terus meningkat secara signifikan hingga mencapai Rp14,9 triliun pada 2025 dengan jumlah sasaran penerima sebanyak 1.044.921 mahasiswa berdasarkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Lalu, pada tahun anggaran 2026, alokasi anggaran KIP Kuliah berdasarkan DIPA naik menjadi Rp15.323.650.458.000 dengan sasaran penerima sebanyak 1.047.221 mahasiswa.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menuturkan, pihaknya terus mengawal program KIP Kuliah agar anggarannya tidak berkurang dan program dapat terlaksana lebih baik lagi. “KIP Kuliah merupakan instrumen strategis untuk memastikan pemerataan kesempatan pendidikan tinggi,” katanya, dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Dirinya berkomitmen pihaknya akan terus memperluas akses pendidikan melalui program KIP Kuliah yang merupakan “Jembatan Harapan” bagi siswa berprestasi dengan keterbatasan ekonomi, untuk melanjutkan studi. Pihaknya juga ingin memastikan anak-anak Indonesia yang kurang mampu secara ekonomi namun berprestasi tetap bisa menempuh pendidikan tinggi.
“Kemdiktisaintek akan terus memastikan bahwa bantuan biaya hidup dari KIP Kuliah adalah hak penuh mahasiswa dan perguruan tinggi serta semua pihak lain dilarang melakukan pungutan bagi penerima KIP Kuliah,” ujarnya.
Dengan peningkatan anggaran, perluasan sasaran, dan penyempurnaan kebijakan, ia menegaskan KIP Kuliah terus menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan pendidikan tinggi yang inklusif dan berkeadilan. Pemerintah memastikan akses terhadap pendidikan tinggi tetap terbuka dan semakin luas bagi generasi muda Indonesia di seluruh daerah.
“Kami dari Kemdiktisaintek mengajak seluruh anak-anak Indonesia yang berasal dari keluarga kurang mampu, terutama lulusan SMA/SMK, untuk jangan khawatir meneruskan ke jenjang kuliah, KIP Kuliah akan menjadi sarana untuk anak bangsa meraih masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.
Sebatas informasi, terkait perbedaan distribusi jumlah penerima di perguruan tinggi tertentu, Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (PPAPT) Kemdiktisaintek selaku pengelola KIP Kuliah menyampaikan bahwa variasi tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Distribusi kuota KIP Kuliah pada periode 2020–2024 didasarkan pada daya tampung masing-masing program studi berdasarkan akreditasi program studi pada masing-masing perguruan tinggi.
Skema ini menempatkan kapasitas kampus dan kualitas program studi sebagai dasar pengalokasian kuota, sehingga jumlah penerima di tiap kampus mengikuti kebijakan yang relatif stabil dari tahun ke tahun. Sehingga persentase jumlah penerima di masing-masing perguruan tinggi relatif tetap.
Mulai 2025, PPAPT Kemdiktisaintek ditugaskan mengelola program KIP Kuliah. Untuk meningkatkan ketepatan sasaran penerima, prioritas penerima bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) diberikan berdasarkan jumlah pemegang Kartu Indonesia Pintar SMA/sederajat atau terdata di DTKS, atau PPKE maksimal Desil 3 yang lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) di masing-masing Perguruan Tinggi Negeri dan telah terdaftar di sistem KIP Kuliah sebelum mengikuti SNBP dan SNBT.
Sedangkan bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS), kuota didistribusikan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) berdasarkan daya tampung masing-masing program studi berdasarkan akreditasi program studi pada PTS di wilayah kerja LLDikti. Dengan kebijakan ini, prioritas penerima KIP Kuliah melekat pada siswa dari keluarga miskin dan rentan miskin yang lulus seleksi masuk PTN melalui SNBP atau SNBT sehingga secara otomatis akan ditetapkan sebagai penerima KIP Kuliah setelah diverifikasi dan divalidasi oleh perguruan tinggi.
Kemenag Alokasikan Rp1,6 Triliun
Kementerian Agama mengalokasikan anggaran Program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) hingga mencapai Rp 1,6 triliun bagi mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) pada 2026. Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin berpesan kepada PTKN agar juga mengalokasikan anggaran beasiswa bagi mahasiswa asing dan memberikan perhatian kepada warga sekitar kampus.
“Kenapa banyak orang Indonesia kuliah di Universitas Al Azhar, karena di sana kuliahnya gratis dengan beasiswa dan biaya hidup murah,” ujar dia dalam keterangan di Jakarta, hari ini. Ia mengatakan beasiswa bagi mahasiswa asing menjadi langkah strategis dan akan berdampak besar bagi perguruan tinggi dan bangsa.
Menurut dia, Indonesia berpeluang besar menjadi destinasi pendidikan Islam dunia. Saat ini, kata dia, ada tiga universitas yang berpengaruh di dunia Islam yaitu Universitas Al Azhar, Universitas Madinah, dan Universitas Internasional Iran.
Selain beasiswa mahasiswa asing, ia juga menyinggung pentingnya perhatian civitas academica PTKN menguatkan kehadirannya kepada masyarakat sekitar. “Mungkin di sekitar kampus banyak keluarga yang kurang mampu, maka PTKN harus hadir memikirkan mereka, salah satunya dengan beasiswa,” imbuhnya.
Perguruan tinggi, katanya, harus memberi dampak kepada masyarakat, di tengah kebutuhan mereka yang kian kompleks. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memberikan sejumlah arahan strategis untuk penguatan pendidikan tinggi nasional dalam Taklimat Presiden Republik Indonesia dengan Rektor serta Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri Tahun 2026.
Arahan tersebut menyoroti perluasan akses beasiswa, penguatan sains dan teknologi, serta pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan nasional. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan, bahwa para rektor dan guru besar mengapresiasi forum dialog langsung dengan Presiden Prabowo.
Bahkan, para rektor dan pimpinan perguruan tinggi mengusulkan agar forum serupa dapat dilaksanakan secara lebih rutin. “Ada permohonan juga dari para rektor dan guru besar agar forum-forum seperti ini bisa lebih dirutinkan kembali,” ulasnya. (sic)