Naradaily-Tidak semua cerita besar lahir dari tempat yang besar. Di sebuah desa kecil bernama Mas di Ubud, sepotong kayu yang sunyi pernah berubah menjadi bahasa jiwa. Melalui tangan dua maestro, Ida Bagus Njana dan Ida Bagus Tilem, kayu tidak lagi sekadar benda, melainkan cerita tentang manusia, alam, dan pencarian makna hidup.
Ida Bagus Njana dikenal sebagai pelopor pahatan yang penuh ekspresi. Tubuh-tubuh yang memanjang, kurus, dan penuh emosi dalam karyanya seperti menggambarkan pergulatan batin manusia. Ia tidak hanya memahat bentuk, tetapi memahat perasaan yang sering kali tak mampu diucapkan dengan kata-kata. Perjalanan itu tidak berhenti pada satu generasi.
Putranya, Ida Bagus Tilem, melanjutkan warisan tersebut dengan pendekatan yang lebih abstrak dan filosofis. Ia melihat kayu sebagai makhluk hidup yang sudah memiliki cerita. Tugas seorang seniman, menurutnya, bukan memaksakan bentuk, tetapi menemukan roh yang sudah tersembunyi di dalam serat kayu itu sendiri.
Dari desa sederhana itu, lahirlah karya-karya yang kemudian melintasi batas dunia. Bahkan Presiden pertama Indonesia, Bung Karno, memilih langsung karya mereka untuk menghiasi Istana Negara. Sebuah bukti bahwa seni tradisi bukan hanya warisan budaya, tetapi juga simbol identitas bangsa. Kini, jejak perjalanan mereka dapat disaksikan di Njana Tilem Museum di Jalan Raya Mas, Ubud, Bali.
Di sana, setiap pahatan berdiri bukan hanya sebagai karya seni, tetapi sebagai saksi perjalanan panjang tentang dedikasi, ketekunan, dan kecintaan terhadap budaya. Dalam podcast Lengkung Seni bersama narasumber Ida Bagus Gede Ary Purnama, kita diajak menyelami sisi lain dari kisah dua maestro ini. Bukan hanya tentang karya, tetapi tentang perjalanan hidup, filosofi berkarya, dan bagaimana seni mampu menghubungkan manusia dengan akar budayanya.
Karena pada akhirnya, seni bukan sekadar sesuatu yang kita lihat—tetapi sesuatu yang kita rasakan. Dan mungkin, di balik setiap pahatan kayu karya Njana dan Tilem, ada pesan sederhana: bahwa kehidupan yang dipahat dengan kesungguhan akan selalu meninggalkan jejak yang abadi. (kom)