Naradaily-Nilai tukar rupiah melemah hingga tembus Rp17.600 per dolar AS lebih, Sabtu (16/5/2026). Kondisi ini menandakan adanya tekanan eksternal dan domestik yang terjadi bersamaan.

Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan, meminta pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tidak menganggap pelemahan rupiah sebagai persoalan sepele. Ia menilai volatilitas nilai tukar yang terlalu tinggi dapat memicu inflasi impor, meningkatkan biaya utang luar negeri, memperburuk persepsi pasar, hingga menekan daya beli masyarakat dan iklim investasi.

“Respons kebijakan harus dilakukan secara terukur, terkoordinasi, dan tidak sekadar berorientasi jangka pendek,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (16/5/2026). Marwan menilai BI perlu melanjutkan strategi stabilisasi melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar offshore secara selektif.

Namun, ia mengingatkan agar intervensi dilakukan dengan perhitungan matang agar tidak menggerus cadangan devisa. Selain itu, ia menekankan pentingnya penguatan komunikasi kebijakan BI untuk menjaga ekspektasi dan kepercayaan pasar.

“Dalam situasi tekanan pasar, persepsi sering kali lebih menentukan dibanding data fundamental itu sendiri. Karena itu, forward guidance yang jelas menjadi sangat penting untuk meredam spekulasi,” imbuhnya.

Marwan juga mendorong pemerintah memperketat pengawasan terhadap repatriasi devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) serta mempercepat penggunaan skema Local Currency Settlement (LCS) dengan mitra dagang utama seperti China, Jepang, dan India. Ia menegaskan stabilisasi rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada BI.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan harus aktif menjaga stabilitas pasar surat utang negara dengan pengelolaan pembiayaan yang fleksibel. Terkait kebijakan suku bunga, ia menilai pendekatan gradual dan berbasis data menjadi pilihan rasional agar keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

“Solusi permanen hanya dapat dicapai melalui penguatan fundamental ekonomi, reformasi struktural, disiplin fiskal, serta kepastian kebijakan yang kredibel,” pungkasnya.

Kenaikan Dolar Tekan Daya Beli Masyarakat

Nilai tukar Rupiah masih belum bertenaga untuk membalikkan tekanan dari Dolar Amerika Serikat. Yang jadi masalah adalah, nilai tukar Rupiah yang melemah dapat berdampak langsung kepada masyarakat.

Dompet-dompet warga Indonesia bisa terkuras karena kenaikan harga dan dampak lainnya. Ekonom Center of Economics and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan, dampak paling besar dari nilai tukar yang terus melemah adalah inflasi yang tak terelakkan.

Sebab, Indonesia sejauh ini masih cukup banyak melakukan impor berbagai produk kebutuhan harian. “Dampaknya adalah, inflasi dari impor akan mulai naik ke depan terutama akibat biaya distribusi naik, harga barang naik. Imported inflation akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi,” ujar Huda kepada media, dikutip Sabtu (16/5/2026).

Huda memprediksi akan ada kenaikan harga dalam 2-3 bulan ke depan. Ia menyatakan yang sudah mulai terlihat adalah plastik sebab bahan bakunya saat ini langka, distribusinya mahal, dan ketika mendapat eksportir yang produknya bisa diimpor harganya naik karena Rupiah nilainya sangat lemah.

Pelemahan harga plastik bukan cuma fenomena biasa, pasalnya banyak barang-barang yang menggunakan plastik juga akan meningkat harganya. Misalnya saja, minyak goreng dalam kemasan yang sudah mulai meningkat harganya.

“Jadi dampak dari pelemahan nilai tukar ini bisa menyeluruh ke semua lapisan masyarakat. Mulai dari penjual gorengan hingga pengusaha terkena dampak negatif,” sebut Huda. Senada dengan Huda, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, Indonesia juga masih banyak mengimpor gandum, kedelai, bawang putih, susu, bahan baku obat, sampai bahan baku industri.

Ketika nilai tukar Rupiah melemah, biaya masuk barang-barang tersebut juga ikut naik. “Dampaknya pelan-pelan terasa di harga makanan, obat, sampai kebutuhan rumah tangga,” tuturnya.

Rendy melanjutkan kelas menengah juga bakal tertekan. Kelas menengah yang mengkonsumsi barang lebih banyak daripada sekadar kebutuhan hidup akan merasakan kenaikan harga yang pesat.

Nilai tukar rupiah yang melemah dapat meningkatkan harga gadget, barang elektronik, kosmetik impor, langganan jasa digital, sampai biaya sekolah dan kuliah luar negeri ikut naik. Ia memprediksi, orang-orang akan menekan pesat ruang belanjanya.

Pembelian hanya dilakukan untuk yang penting-penting saja. Akhirnya banyak orang yang merasakan penghasilannya tak lagi mencukupi hidupnya.

“Orang mungkin tetap bisa membeli, tetapi ruang belanjanya jadi lebih sempit. Ini yang kemudian membuat banyak orang merasa penghasilannya tidak sejauh dulu,” ujar Rendy.

Melemahnya nilai tukar juga berpotensi membuat harga transportasi makin mahal. Tiket pesawat misalnya, bahkan untuk penerbangan domestik nampaknya harga yang dipatok akan sulit dijangkau.

“Sebagian besar biaya maskapai berbasis Dolar, mulai dari avtur, sewa pesawat, suku cadang, sampai perawatan mesin. Jadi ketika rupiah melemah, biaya operasional maskapai otomatis naik,” ujar Rendy.

Namun segelintir orang, kata Rendy, bisa mengambil keuntungan dari nilai tukar Rupiah yang melemah. Misalnya saja, pekerja migran yang mendapatkan uang dari luar negeri biasanya akan mendapatkan nominal lebih besar ketika penghasilannya ditukar dalam Rupiah.

Kemudian, para eksportir komoditas, baik skala kecil maupun besar, mulai dari komoditas kelapa sawit, kopi, atau perikanan juga relatif terbantu. Karena pendapatannya berbasis Dolar sementara sebagian besar biayanya Rupiah.

Namun begitu, Rendy tetap menekankan nilai Rupiah yang melemah dampaknya lebih banyak buruk kepada masyarakat Indonesia. “Tapi secara umum, untuk mayoritas masyarakat, Rupiah yang terlalu lemah tetap lebih banyak menambah tekanan dibanding manfaatnya,” yakinnya.

Respons Menkeu

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang kini menembus level Rp 17.600 per dollar AS. Purbaya mengatakan, pemerintah sudah mulai mengaktifkan sejumlah instrumen stabilisasi pasar sejak Rabu (13/5/2026), salah satunya melalui intervensi di pasar obligasi negara atau Surat Berharga Negara (SBN).

“Kita kan punya BSF, tapi belum fund semuanya, kita aktifkan instrumen yang kita punya di sini. Besok baru jalan,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (12/5/2026) lalu. Purbaya menyebutkan, pemerintah memang memiliki instrumen Bond Stabilization Fund (BSF), meski ia belum menjelaskan secara rinci mekanisme ataupun besaran intervensi yang akan dilakukan.

Menurut Purbaya, langkah masuk ke pasar obligasi diperlukan agar yield SBN tidak melonjak terlalu tinggi di tengah tekanan pasar keuangan global dan pelemahan rupiah. Ia menjelaskan, kenaikan yield yang terlalu tajam berpotensi memicu kerugian nilai investasi atau capital loss bagi investor asing yang memegang obligasi pemerintah Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah berupaya menjaga stabilitas pasar surat utang agar tekanan terhadap arus modal asing tidak semakin besar. Pelemahan rupiah sendiri terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk sentimen suku bunga tinggi AS dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi geopolitik internasional yang mendorong penguatan dollar AS secara luas. (sic)