Naradaily-Film “Sekawan Limo 2: Gunung Klawih” hadir dengan sambutan luar biasa dari penonton bioskop Indonesia. Pada hari pertama penayangannya, film ini berhasil mengumpulkan 212.469 penonton, lebih dari dua kali lipat capaian film pertamanya, “Sekawan Limo” (2024), yang mencatat 100.155 penonton saat premiere pada 4 Juli 2024.
Pencapaian tersebut tidak semata-mata dipengaruhi momentum libur panjang Idul Adha, melainkan juga menjadi bukti tingginya antusiasme masyarakat terhadap karya terbaru Bayu Skak yang kembali berperan sebagai sutradara, penulis skenario, sekaligus pemeran utama.
Melihat tingginya minat penonton, rumah produksi Starvision, Skak Studios, dan Legacy Pictures segera menambah jumlah penayangan hingga 34 persen dengan total 2.983 show di 482 bioskop. Langkah tersebut terbukti efektif karena hingga Sabtu (30/5), atau empat hari setelah tayang perdana pada Rabu (27/5), jumlah penonton telah menembus 500.725 orang.
Di balik keberhasilan komersialnya, “Sekawan Limo 2: Gunung Klawih” juga menawarkan pengembangan cerita yang lebih luas dibanding film sebelumnya. Berlatar tiga tahun setelah peristiwa di Gunung Madyopuro, kisah kembali mengikuti lima sahabat, yakni Bagas (Bayu Skak), Lenni (Nadya Arina), Juna (Benidictus Siregar), Andrew (Indra Pramujito), dan Dicky (Firza Valaza), yang berkumpul merayakan ulang tahun Angel, putri Andrew.
Namun suasana hangat tersebut berubah mencekam ketika Andrew menerima ancaman bahwa keluarganya akan dijadikan tumbal dalam praktik pesugihan. Ancaman itu membawa mereka kembali ke dunia mistis, kali ini di Gunung Klawih, sebuah lokasi fiktif yang terinspirasi dari Gunung Kawi di Jawa Timur.
Melalui riset yang dilakukan Bayu Skak bersama penulis skenario Nona Ica, film ini mengangkat fenomena pesugihan bukan hanya sebagai unsur horor, tetapi juga sebagai sarana menyampaikan pesan moral dari pepatah Jawa “ojo nggolek dalan pintas” atau jangan mencari jalan pintas. Film ini memperlihatkan konsekuensi besar yang dapat muncul dari keinginan memperoleh kesenangan secara instan.
Cerita juga diperkaya dengan latar sosial dan budaya tahun 1998 yang memberikan kedalaman emosional pada karakter Andrew sebagai seorang ayah keturunan Tionghoa yang berusaha melindungi keluarganya dari ancaman kekuatan gaib.
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada keseimbangan antara unsur komedi dan horor. Hampir seluruh dialog menggunakan dialek Jawa khas kawasan Gunung Kawi yang berbeda dengan dialek Jawa Timur pada umumnya. Untuk memudahkan penonton non-Jawa, film ini dilengkapi subtitel Bahasa Indonesia yang tersusun rapi.
Kehadiran para personel “Yowis Ben”, seperti Bayu Skak, Joshua Suherman, Brandon Salim, dan Tutus Thomson, turut menghadirkan nuansa nostalgia sekaligus memperkuat chemistry antarkarakter di layar.
Di balik layar, Joshua Suherman berperan sebagai konsultan komedi yang membantu menjaga agar humor spontan para aktor tidak mengganggu suasana horor. Menurut Benidictus Siregar yang memerankan Juna, proses tersebut dilakukan melalui diskusi rutin untuk membagi porsi komedi secara seimbang di antara karakter. Hasilnya, humor hadir pada momen yang tepat tanpa mengurangi intensitas adegan menegangkan.
Secara struktur, film dibagi menjadi dua bagian yang cukup jelas. Paruh pertama berfokus pada drama reuni dan komedi yang terasa ringan, sedangkan paruh kedua membawa penonton memasuki dunia demit dengan tempo yang jauh lebih cepat dan intens. Perubahan atmosfer ini memang terasa kontras, namun menjadi bagian penting dalam membangun eskalasi teror yang lebih kuat.
Film ini juga memperluas semesta cerita dengan menghadirkan sejumlah karakter baru. Aruna yang diperankan Jihane Almira memberikan perspektif segar dalam investigasi mistis yang dilakukan para tokoh utama. Sementara hubungan antara Kina (Elsa Japasal) dan Juna menghadirkan sub-plot romantis-komedi yang menjadi penyeimbang di tengah ketegangan cerita.
Dari sisi visual, “Sekawan Limo 2” menawarkan variasi yang lebih kaya. Jika film pertama banyak mengeksplorasi jalur pendakian terbuka, kali ini sebagian besar adegan berlangsung di ruang tertutup yang menciptakan suasana lebih sempit, intens, dan menegangkan. Efek visual hantu juga tampil lebih matang dan mampu mendukung atmosfer horor secara maksimal.
Kehadiran aktor senior dan seniman tradisional seperti Cak Kartolo sebagai Dukun Kartolo serta Marwoto sebagai Dukun Ranto semakin memperkuat akar budaya lokal dalam cerita. Mereka berperan menjelaskan berbagai aspek supranatural yang menjadi bagian penting dari konflik dalam film.
Secara keseluruhan, “Sekawan Limo 2: Gunung Klawih” tidak hanya mengulang formula sukses pendahulunya. Film ini berhasil memperluas dunia cerita melalui karakter baru, pengembangan latar, serta pengelolaan komedi yang lebih terstruktur. Kehadiran sub-plot dan karakter pendukung seperti Juna dan Kina juga menunjukkan bahwa semesta Sekawan Limo masih memiliki banyak ruang untuk dikembangkan di masa mendatang.
Bagi pecinta film komedi-horor Indonesia, karya ini menjadi bukti bahwa mitos dan tradisi lokal dapat diolah menjadi tontonan modern yang menarik, relevan, sekaligus membuka peluang lahirnya cerita-cerita baru dalam waralaba Sekawan Limo. (kom)