Naradaily-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, terus meluas di tengah musim kemarau, Rabu (21/10/2026). Kobaran api bahkan mendekati kawasan perkantoran dan menara saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) di Jalan Giobos 14.
Petugas gabungan berjibaku memadamkan api yang cepat menjalar akibat kondisi lahan kering. Keterbatasan sumber air di lokasi menjadi kendala sehingga petugas memanfaatkan sumur bor untuk memasok air selama proses pemadaman.
Api yang mendekati kawasan perkantoran memicu kekhawatiran karena berpotensi menjalar ke bangunan dan objek vital di sekitarnya. Jarak kobaran api dengan bangunan perkantoran diperkirakan hanya sekitar 60 meter.
“Kendalanya kurang sumur bor air,” ujar Tim Serbu Api Kelurahan Menteng Palangka Raya, Nasrul. Setelah melakukan pemadaman, petugas berhasil mengendalikan api. Proses dilanjutkan dengan pendinginan dan pembasahan lahan untuk mencegah munculnya kembali titik api di area yang telah terbakar.
Tim Serbu Api Kelurahan Menteng Palangka Raya, Nasrul, menjelaskan kondisi kebakaran saat petugas melakukan penanganan di lokasi. Sementara itu, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, total luas hutan dan lahan yang terbakar mencapai 1.453 hektare. Area kebakaran tersebut tersebar di lima kecamatan.
Kasus ISPA Melonjak Drastis
Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per 18 Oktober 2026 pukul 10.00, jumlah kumulatif kasus ISPA kini mencapai 306.309 kasus, dari semula 277.075 di Rabu (14/10/2026). Dari jumlah tersebut, sebanyak 69.015 kasus dialami balita berusia 0 hingga 5 tahun.
Dari kelompok anak-anak berusia 6 hingga 9 tahun yang terdampak ISPA tercatat 77.022 kasus dan kelompok lanjut usia (lansia) sebanyak 49.680 kasus. Penambahan kasus harian ISPA di wilayah terdampak karhutla tercatat sebanyak 2.778 kasus pada 17 Oktober 2026.
Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan penambahan kasus pada 16 Oktober yang mencapai 2.808 kasus. Meski jumlah kasus secara kumulatif masih tinggi, Kemenkes mengklaim tren penambahan kasus ISPA di sejumlah wilayah mulai menunjukkan penurunan.
Wilayah tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sumatera Selatan. Namun, tren berbeda terlihat di Riau.
Kemenkes melaporkan penambahan kasus ISPA di wilayah tersebut masih mengalami peningkatan. Paparan asap karhutla perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti balita, anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan sebelumnya. (sic)