Naradaily-Terungkap, sejumlah produk Minyakita ditemukan berbau solar. Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan seluruh produk Minyakita yang diduga berbau solar di wilayah Solo dan sekitarnya telah ditarik dari peredaran.

Pemerintah masih melakukan investigasi dan menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab dugaan pencemaran tersebut. Pernyataan itu disampaikan Menteri Budi Santoso saat meninjau harga kebutuhan pokok di Pasar Manis Purwokerto, Kabupaten Banyumas, dikutip Jumat (26/6/2026).

Menurutnya, pemerintah tidak akan ragu menjatuhkan sanksi tegas apabila ditemukan pelanggaran dalam kasus dugaan pencemaran minyak goreng bersubsidi tersebut. “Semuanya sudah ditarik dan kita terus melakukan investigasi. Kalau memang melanggar aturan ya perusahaannya bisa dicabut izinnya. Kalau ada temuan lain ya akan diproses,” kata Menteri Budi Santoso.

Meski seluruh produk terkait telah ditarik dari pasar, Budi Santoso belum bersedia menyimpulkan penyebab munculnya aroma solar pada Minyakita. Ia menegaskan, pemerintah masih menunggu hasil pengujian laboratorium sebelum mengumumkan temuan resmi kepada publik.

“Saya belum berani menyampaikan dugaan apa pun karena sekarang masih diuji di laboratorium,” ujarnya. Dalam kunjungan tersebut, Budi Santoso juga memantau perkembangan harga kebutuhan pokok di Pasar Manis Purwokerto.

Berdasarkan hasil pemantauan, sejumlah komoditas strategis mulai menunjukkan tren penurunan harga. Harga cabai rawit tercatat berada di kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp57.000 per kilogram.

Selain itu, harga bawang merah, bawang putih, telur ayam, dan daging ayam juga dinilai relatif stabil dan masih berada dalam batas yang wajar. Menurutnya, harga telur ayam saat ini berkisar Rp25.000 per kilogram.

Sementara itu, harga daging ayam berada di kisaran Rp36.000 per kilogram atau masih di bawah HET sebesar Rp40.000 per kilogram. Ia menegaskan, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan harga agar tetap menguntungkan produsen sekaligus terjangkau bagi konsumen.

Karena itu, Kementerian Perdagangan menggunakan acuan HET dan harga referensi untuk memantau pergerakan harga di berbagai daerah. “Kalau harga terlalu rendah, kasihan juga peternak. Namun kalau harga di atas HET, kasihan juga konsumen. Maka kita cari titik temu antara produsen yang diwakili penjual dengan pembeli,” paparnya.

Ia menambahkan, saat harga telur dan daging ayam sempat mengalami penurunan, pemerintah langsung berkoordinasi dengan sektor hotel, restoran, kafe (horeka), serta ritel modern untuk menyerap hasil produksi peternak. Langkah tersebut dilakukan agar harga kembali stabil dan kesejahteraan peternak tetap terjaga.

Selain melakukan inspeksi langsung ke pasar, pemerintah juga memantau harga kebutuhan pokok melalui sistem pemantauan pasar dan kebutuhan pokok (SP2KP). Pasar Manis Purwokerto menjadi salah satu titik pemantauan dalam sistem tersebut. Data harga dikumpulkan setiap hari oleh ratusan kontributor dan digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan stabilisasi harga nasional. (sic)