Naradaily-Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke Jepang dengan dua target yaitu investasi transisi energi dipercepat dan proyek Blok Masela segera masuk tahap pelaksanaan. Nilai proyek migas raksasa itu kini disebut mencapai USD20,9 miliar dan masih bisa naik di tengah gejolak geopolitik global.
“Atas arahan Bapak Presiden Prabowo saya ditugaskan untuk melakukan dua hal di Jepang. Pertama memastikan percepatan investasi di transisi energi, yang kedua menyangkut impact Blok Masela,” kata Bahlil kepada wartawan di Jepang, dikutip Selasa (31/3/2026).
Menurut Bahlil, konsesi Blok Masela sudah dipegang selama 27 tahun, tetapi proyeknya belum juga berjalan. Setelah pembahasan intensif sepanjang 2025, nilai proyek kini mencapai USD20,9 miliar.
Angka itu sudah termasuk tambahan sekitar USD1 miliar untuk CCS, yakni teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon. Dengan situasi global saat ini, nilai investasinya disebut masih bisa bertambah hingga sekitar Rp300 triliun lebih.
Pemerintah kini menargetkan proyek itu masuk tahap lebih konkret. Bahlil mengatakan pada 2026 akan dimulai tender EPC, yakni proses mencari kontraktor untuk pekerjaan rekayasa, pengadaan, dan konstruksi proyek.
Sementara FID atau keputusan investasi final ditargetkan rampung tahun ini. Menurut Bahlil, percepatan itu penting karena Masela merupakan salah satu lapangan migas besar dengan kapasitas sekitar 1.200 MM.
“Kalau ini mampu kita lakukan maka ketahanan energi kita di sektor migas itu akan semakin kuat dan sekaligus menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain gas di dunia,” ujarnya. Bahlil juga membuka opsi agar gas Masela diserap di dalam negeri jika pasar luar belum pasti.
Ia menyebut Danantara dan PGN bisa masuk untuk memperkuat hilirisasi. Di luar Masela, pemerintah juga mendorong pengembangan energi nonfosil, dari panas bumi, air, matahari, hingga angin. Ketidakpastian geopolitik, kata Bahlil, membuat Indonesia harus mempercepat sumber energi alternatif.
Saat ditanya soal harga minyak dunia yang sudah menyentuh USD115 per barel, Bahlil belum memberi jawaban final soal BBM bersubsidi. Namun ia memberi sinyal pemerintah masih menahannya.
“Untuk BBM subsidi sampai dengan sekarang saya pikir Bapak Presiden punya hati untuk memperhatikan rakyat kecil,” imbuhnya. Soal BBM non-subsidi, ia menegaskan harganya memang mengikuti pasar sesuai aturan. Adapun kebijakan untuk BBM subsidi, kata Bahlil, menunggu keputusan Presiden. (sic)