Naradaily-DPR RI telah resmi menyetujui Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri dari jabatannya pada 13 Januari 2026. Persetujuan tersebut disampaikan dalam Rapat Paripurna ke-12, masa persidangan III, tahun sidang 2025-2026, yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa.

“Sekarang perkenankan kami menanyakan kepada sidang dewan terhormat terhadap laporan Ketua Komisi XI dapat disetujui?” kata Saan Mustopa. “Setuju,” jawab seluruh anggota dewan yang hadir.

Dengan demikian, Thomas telah resmi disetujui sebagai Deputi Gubernur BI. Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengatakan, penetapan Thomas Djiwandono tersebut telah melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang berlangsung pada 26 Januari lalu.

“Rapat internal Komisi XI DPR RI tanggal 26 Januari 2026 memutuskan secara musyawarah mufakat untuk menyetujui saudara Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia terpilih untuk periode 2026-2031,” kata Misbakhun, dikutip Rabu (28/1/2026). Sebelumnya, Thomas dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan pada 18 Juli 2024 di era Presiden Joko Widodo dan tugasnya dilanjutkan di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Ia juga merupakan kader Partai Gerindra dan menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Gerindra. Namun, Thomas telah mengundurkan diri dari jabatannya di partai pada 31 Desember 2025.

Thomas Djiwandono memastikan akan menjaga independensi Bank Indonesia (BI) setelah resmi menjabat sebagai Deputi Gubernur BI. Thomas terpilih menggantikan Juda Agung setelah melalui proses tes kelayakan dan kepatutan (fit and proper test).

“Saya sudah mengikuti segala peraturan dan perundangan yang ada. Saya ingin menyampaikan komitmen saya untuk menjaga independensi bank sentral,” kata Thomas kepada wartawan di Kompleks DPR RI, Jakarta, dikutip Rabu (28/1/2026).

Thomas menuturkan dalam proses fit and proper test yang dijalaninya pada Senin (26/1/2026), ia menyampaikan pentingnya upaya menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter. Ia berharap masyarakat dapat memberikan pandangan yang objektif dan terukur terhadap dirinya.

Meski dirinya merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas menegaskan profesionalitas tetap menjadi pijakan utama dalam menjalankan tugasnya di BI. “Penting bagi masyarakat untuk mengetahui cerita yang sebenarnya selama ini,” yakinnya.

Dalam paparan visi dan misinya saat fit and proper test, Thomas menggagas konsep bertajuk GERAK. GERAK merupakan akronim dari governance, efektivitas kebijakan, resiliensi sistem keuangan, akselerasi sinergi fiskal, moneter, dan sektor keuangan, serta keberlanjutan transformasi keuangan.

Thomas berkomitmen membawa bank sentral mampu menciptakan stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Dalam presentasinya, ia menekankan pentingnya sinergi antara BI sebagai otoritas moneter dan pemerintah sebagai otoritas fiskal. (sic)