Naradaily-Stok beras aman hingga Lebaran 2026. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan saat ini stok cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang yang dikelola mencapai 3.351.900 ton, dipastikan aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Imlek, Ramadhan, hingga Idul Fitri 2026.
“Kami jelaskan, stok komoditas beras Bulog di seluruh tanah air. Jadi total stok beras Bulog di tanah air adalah 3.351.900 ton,” kata Rizal dalam konferensi pers terkait perkembangan terkini penanganan bencana di wilayah Sumatera yang digelar di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, dikutip Sabtu (10/1/2026).
Ia menjelaskan, total stok beras Bulog yang tersimpan di gudang seluruh Indonesia saat itu sebagai cadangan strategis nasional pemerintah untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan nasional. Kesiapan stok tersebut digunakan menghadapi perayaan Imlek dalam waktu dekat kemudian bulan Ramadan hingga Lebaran sehingga distribusi dan ketersediaan beras tetap terjaga nasional bagi masyarakat.
“Kesiapan stok ini untuk menghadapi pertama adalah Imlek dalam waktu dekat, kemudian menghadapi Ramadhan, kemudian menghadapi Lebaran,” imbuhnya. Ia menambahkan lagi, stok beras Bulog akan terus bertambah seiring potensi hasil panen yang berlangsung pada berbagai sentra produksi nasional utama di daerah lumbung pangan.
Apalagi, tahun ini Bulog ditargetkan menyerap beras sebanyak 4 juta ton sebagai bagian penguatan cadangan beras pemerintah dan stabilisasi pasokan domestik nasional untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat. Dengan tambahan serapan 4 juta ton tersebut total stok Bulog diperkirakan mencapai hampir 7 juta ton sepanjang tahun 2026, sehingga kapasitas intervensi pasar dan bantuan pangan semakin kuat.
“Insyaallah dengan stok ini akan terus bertambah karena potensi hasil panen dari Kementerian Pertanian, kami Bulog ditargetkan di tahun 2026 ini targetnya serapannya adalah 4 juta ton (setara beras),” bebernya.
Stok hampir 7 juta ton itu akan dimaksimalkan terlebih dahulu untuk kebutuhan dalam negeri guna menjaga stabilitas pasokan dan harga beras nasional bagi masyarakat selama periode hari besar keagamaan nasional.
Kendati demikian, ia menegaskan prioritas utama pemerintah tetap pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Namun, peluang ekspor tetap terbuka jika stok mencukupi.
“Dengan 7 juta ton tersebut Insyaallah kita akan maksimalkan untuk dalam negeri dulu. Kemudian kalau memang nanti ada potensi ekspor, kami (mungkin akan mengirim) ke Timor Leste, atau mungkin Papua Nugini, atau bahkan ke Malaysia. Kita akan melaksanakan ekspor sesuai dengan arahan Bapak Presiden (Prabowo Subianto) maupun Bapak Menteri Pertanian (Amran Sulaiman) yang juga selaku kepala Bapanas (Badan Pangan Nasional),” tambahnya.
Terkait kesiapan ekspor, Rizal menegaskan Bulog siap secara operasional. “Kami siap dalam arti tinggal kami melihat potensi dari negara mana yang akan diekspor tersebut. Nah potensi ini kami menunggu dari informasi Kementerian Perdagangan (Kemendag) karena yang bisa berkomunikasi dengan negara antar negara adalah Kementerian Perdagangan dalam hal ini,” ujarnya.
Ia menyebutkan, koordinasi dengan Kementerian Perdagangan akan semakin intens, agar peluang ekspor bisa segera direalisasikan. “Kami akan berkomunikasi ketat dengan beliau, supaya kalau memang ada peluang kita akan kirim beras-beras Bulog untuk ekspor ke negara-negara tetangga terutama. Yang kedua, adalah negara-negara yang betul-betul membutuhkan, apalagi daerah konflik dan lain sebagainya,” ulasnya.
Soal volume ekspor, ia mengungkapkan sudah adanya arahan awal dari Mentan Amran, yakni membuka kemungkinan ekspor sebesar 1 juta ton. “Kalau tadi pagi arahan dari Pak Mentan, kita siapkan untuk ekspor 1 juta ton,” akunya.
Untuk mendukung rencana tersebut, Bulog juga mulai melakukan penjajakan dengan perwakilan perdagangan negara mitra. “Kami juga sudah tawarkan ke atase perdagangan masing-masing negara-negara tetangga, kita coba mulai lobi. Mungkin ada yang berkenan, nanti kita koordinasikan harganya berapa,” katanya.
Adapun skema harga, lanjutnya, akan menyesuaikan kondisi pasar global. “Karena kan biasanya kalau sekarang ikuti harga dunia, harga berasnya gitu,” ucap dia.
Lebih jauh, Rizal mengingat perihal negara tujuan ekspor saat ini masih dalam tahap proyeksi awal. “Nah ini sedang proyeksi penjajakan, nanti kalau ada hasilnya pasti kami laporkan segera ke teman-teman,” tuntasnya. (sic)