Naradaily-Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) mengungkapkan sebanyak 28 klub dari Liga 1 Indonesia (Super League) hingga Liga 4 Indonesia masih memiliki tunggakan gaji pemain. Total nilai tunggakan tersebut mencapai Rp14,8 miliar.
“Total kasus yang ada di kita, baik dari laporan maupun sampai dengan putusan NDRC tapi belum dilaksanakan, itu total ada 28 klub. Ya, dengan total 303 pemain. Itu dari Liga 1 sampai Liga 4 dengan nilai keseluruhan 14 miliar 800 juta sekian,” kata Legal APPI Mohammad Agus Riza Hufaida pada Arthur pada acara Water Break PSSI Pers “Membawa Liga Naik Kelas” di Kantor I.League, Jakarta.
Ke-28 klub tersebut terdiri atas PSM Makassar, Semen Padang, PSMS Medan, Persiku Kudus, PSIS Semarang, RANS FC, Sriwijaya FC, Persikota Tangerang, Persinab Sang Maestro, Persipa Pati, Persitara Jakarta Utara, Persibo Bojonegoro, Persekat Tegal, Persiwa Wamena, Persid Jember, PS Siak, Bantul United, PSM Madiun, Depok Raya FC, Kalteng Putra, Pakuan City, Persewar Waropen, Persikab Kabupaten Bandung, PSGJ Cirebon, Persikabo 1973, dan Waanal Brother FC.
Riza berharap persoalan tunggakan gaji tersebut segera diselesaikan karena pembayaran gaji merupakan hak pemain sepak bola.
“Dan hak pemain ini, ya kalau ada hadis yang bilang bahwa bayarlah upah pekerja sebelum keringatnya kering,” kata dia.
Ia juga berharap masalah tunggakan gaji pemain tidak kembali terjadi pada musim depan yang akan kick-off pada akhir pekan ini.
Menurut Riza, klub yang masih memiliki persoalan terkait hak pemain semestinya tidak diperbolehkan mengikuti kompetisi sebagai bentuk penerapan sanksi yang tegas.
“Dan soal bagaimana kemudian tidak ada permasalahan gaji, sebenarnya mungkin beberapa tahun sebelumnya kami sudah berulang kali menyampaikan mitigasi-mitigasinya, termasuk soal zero tolerance terkait dengan klub lisensi tadi,” kata dia.
Riza mengungkapkan, pada musim lalu masih terdapat tiga klub di kompetisi Super League yang menunggak gaji pemain, yakni PSBS Biak, PSM, dan Semen Padang.
Ia secara khusus menyoroti kasus PSBS Biak. Menurutnya, persoalan tersebut seharusnya dapat diantisipasi lebih awal karena masalah tunggakan gaji telah muncul sekitar empat bulan sebelum kompetisi musim lalu berakhir.
Riza mengungkapkan hak pemain PSBS hingga kini juga belum dibayarkan.
“Kita mau ngomong membawa liga naik kelas, tapi masalah dasar terkait dengan haknya pemain itu, masih menjadi problem,” kata dia.
Ia menegaskan persoalan pembayaran hak pemain seharusnya sudah tidak terjadi lagi, terutama di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
“Harusnya sudah kita tinggalkan beberapa tahun lalu. Dan ke depan ini harus sudah harus enggak boleh terjadi, minimal Liga 1, jangan sampai terjadi. Ini yang paling penting,” tutup dia. (kom)