Naradaily-Thailand selatan dihantam badai ekstrem yang disebut sebagai “sekali dalam 300 tahun”. Badai tersebut menjadi pemicu banjir besar melanda sembilan provinsi di Thailand, dengan ketinggian air mencapai lebih dari 2,5 meter.
Salah satu kota paling terdampak, Hat Yai, provinsi Songkhla bahkan sempat terputus aksesnya. Hat Yai, pusat perdagangan karet, merupakan kota terbesar kelima di Thailand.
Melansir CAN, Rabu (26/11/2025), pihak berwenang telah memerintahkan evakuasi setelah hujan deras selama berhari-hari yang menurut Perdana Menteri Anutin Charnvirakul telah menyebabkan banjir terburuk dalam 15 tahun. Diperkirakan 2,2 juta orang terdampak di Thailand. Perahu-perahu kecil juga diminta untuk tidak melaut menghindari gelombang setinggi lebih dari 3 meter.
“Telepon terus berdatangan tanpa henti dalam tiga hari terakhir, jumlahnya mencapai ribuan, meminta evakuasi dan yang lainnya meminta makanan,” kata seorang anggota kelompok sukarelawan Matchima Rescue Center di kota Hat Yai yang paling parah terdampak. Kementerian Kesehatan Thailand melaporkan sedikitnya 19 orang tewas, sebagian besar akibat sengatan listrik dan kecelakaan terkait banjir.
Kerajaan Thailand menyebut Hat Yai mengalami hujan terderas dalam 300 tahun, berdasarkan tingkat kejarangan badai sebesar ini. Curah hujan di sejumlah wilayah bahkan mendekati 400 milimeter, diperparah luapan sungai dan banjir bandang.
Hingga kemarin, banjir masih merendam sembilan provinsi dan berdampak pada lebih dari 127.000 rumah tangga. Di Rumah Sakit Hat Yai, situasi sempat kacau setelah suplai listrik dan air terputus.
Sekitar 30 bayi baru lahir terisolasi di bangsal lantai tiga—orang tua mereka tidak dapat mencapai rumah sakit karena seluruh akses terendam. “Rumah sakit harus merawat mereka,” kata perawat rumah sakit Fasiya Fatonni, menambahkan bahwa orang tua bayi-bayi itu “khawatir tetapi mereka tidak bisa sampai di sini, air naik dan semua transportasi terputus.”
Dia membagikan foto-foto bangsal bayi, yang memperlihatkan para perawat duduk di ruangan gelap yang hanya diterangi oleh satu lampu. Kipas angin berdiri telah ditempatkan di sekitar ruangan untuk menjaga bayi baru lahir tetap sejuk di tempat tidur bayi mereka.
“Bangsal berada di lantai tiga rumah sakit, semoga cukup tinggi sehingga mereka tidak perlu mengungsi,” ujarnya. Namun, perawat lain, Pattiya Ruamsook, khawatir dengan banjir yang semakin tinggi.
“Kemarin, air hanya menggenangi lantai satu, sekarang sudah naik ke lantai dua,” ujarnya. Sekitar 500 orang berada di rumah sakit hingga Selasa, termasuk 200 pasien rawat inap, tambahnya, mendesak pihak berwenang untuk membantu mengirimkan lebih banyak air minum kepada mereka yang terlantar.
Departemen Irigasi mengatakan, mereka bekerja sama dengan berbagai instansi pemerintah dan pejabat daerah lainnya untuk menanggapi banjir regional, termasuk mengirimkan truk untuk pasokan dan mengevakuasi mereka yang berada di daerah berisiko tinggi. Mereka juga berupaya mengeringkan air banjir secepat mungkin, memasang puluhan pompa air dan baling-baling untuk mengalihkan air banjir ke Danau Songkhla di dekatnya dan Teluk Thailand, di lepas pantai timur negara itu.
Ketika hujan deras berhenti, banjir di provinsi-provinsi selatan diperkirakan akan “berangsur mereda”, meskipun pihak berwenang tetap “berhati-hati” untuk daerah-daerah dataran rendah, menurut departemen irigasi. Hujan deras yang berlangsung selama berhari-hari juga berdampak pada negara-negara tetangga.
PM Thailand Umumkan Keadaan Darurat
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengumumkan keadaan darurat di provinsi Songkhla sejak Selasa (25/11/2025), karena banjir parah melanda wilayah selatan. Pengumuman itu disampaikan seiring pemerintah membentuk pusat komando khusus untuk mengoordinasikan operasi penyelamatan sebagai tanggapan atas curah hujan dan banjir dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang telah menyebabkan kerusakan properti secara meluas dan menimbulkan ancaman serius terhadap keselamatan masyarakat.
Menurut Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana (Department of Disaster Prevention and Mitigation) Thailand, banjir yang dipicu monsun itu telah berdampak pada sembilan provinsi di wilayah selatan negara tersebut. Departemen Meteorologi Thailand telah mengeluarkan peringatan bahwa angin monsun timur laut yang kuat dan sel bertekanan rendah intens yang meliputi wilayah selatan bawah Thailand serta Malaysia diperkirakan akan membawa hujan lebat yang terus berlanjut, sehingga secara signifikan meningkatkan risiko banjir bandang dan limpasan air dari lereng gunung. (sic)