Naradaily-Tim Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar menemukan sejumlah barang yang diduga milik korban di wilayah Kabupaten Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan. Temuan tersebut diperoleh dalam operasi pencarian yang memasuki hari ketiga di kawasan Gunung Bulusaraung.
“Hingga hari ketiga operasi, tim SAR gabungan berhasil menemukan sejumlah barang milik korban serta bagian dari pesawat di area pencarian di Gunung Bulusaraung,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar di Makassar, Selasa (20/1/2026).
Ia menjelaskan, temuan itu diperoleh dari hasil penyisiran intensif tim darat di jalur ekstrem antara puncak gunung dan Pos 9 jalur pendakian. Dalam proses tersebut, tim SAR gabungan menemukan berbagai barang yang diduga milik korban, mulai dari dokumen pribadi, dompet, buku catatan, hingga barang elektronik seperti jam tangan pintar.
Selain barang pribadi, tim juga menemukan beberapa bagian pesawat, antara lain pelampung dan fire signal, di sekitar area bagian kepala pesawat. Arif menyampaikan seluruh barang dan bagian pesawat yang ditemukan telah diamankan, didata, serta ditandai titik koordinatnya sesuai dengan prosedur operasi standar.
Menurutnya, temuan tersebut menjadi petunjuk penting untuk mempersempit area pencarian dan menentukan langkah lanjutan dalam proses evakuasi korban. “Medan di lokasi kejadian sangat curam dan berisiko tinggi. Proses pencarian dilakukan dengan teknik khusus, termasuk rapping dan pembukaan jalur, sehingga membutuhkan waktu, ketelitian, dan koordinasi yang kuat antarunsur,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyampaikan apresiasi atas kerja keras seluruh tim SAR gabungan yang tetap bertugas di tengah keterbatasan dan kondisi alam yang ekstrem. Ia menilai penemuan barang-barang milik korban dan bagian pesawat menunjukkan tim SAR sudah berada sangat dekat dengan titik-titik krusial pencarian.
“Ini merupakan hasil dari kerja keras, disiplin, dan kolaborasi seluruh unsur di lapangan,” kata Mohammad Syafii.
Ia menambahkan, cuaca dan kondisi alam masih menjadi tantangan utama dalam operasi SAR. Kabut tebal, medan terjal, serta perubahan cuaca yang cepat kerap menghambat pergerakan tim, baik dari udara maupun darat. Meski demikian, tim SAR gabungan tetap bekerja secara maksimal dengan mengutamakan keselamatan personel, dan operasi pencarian akan terus dilanjutkan secara profesional serta terukur hingga seluruh proses evakuasi dapat diselesaikan. (kom)