Naradaily-Belajar dari bencana besar Aceh dan Sumatera, siklon tropis baru bisa jadi ancaman bagi seluruh daerah di Indonesia. Peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr Amien Widodo, mendesak penguatan kapasitas masyarakat menghadapi bencana hidrometeorologis.
Dr Amien Widodo, pakar Mitigasi Kebencanaan dari Departemen Teknik Geofisika ITS, menganalisis bahwa curah hujan ekstrem yang dibawa Siklon Senyar berinteraksi dengan kondisi topografi Indonesia yang rapuh. “Curah hujan ekstrem yang dibawa Siklon Senyar berinteraksi dengan kondisi topografi bergunung-gunung serta kerusakan hutan yang telah berlangsung puluhan tahun,” ujar Amien Widodo, dikutip Sabtu (6/12/2025).
Menurutnya, interaksi ini berakibat fatal: tanah menjadi tidak stabil, memicu banjir bandang yang membawa lumpur, batu, serta kayu gelondongan dengan daya rusak yang sangat besar. Tragedi Sumatera kini menjadi landasan untuk merespons peringatan dini dari BMKG mengenai kemunculan bibit siklon tropis baru di selatan Pulau Jawa.
Bibit siklon ini berpotensi memengaruhi wilayah Jawa, Bali, NTT, hingga Timika, Papua. “Peringatan ini harus segera direspons dengan langkah mitigasi nyata mengingat tragedi Sumatera menjadi bukti bahwa keterlambatan persiapan dapat berakibat fatal,” kata Amien, merujuk pada kesamaan ancaman yang pernah terjadi di Aceh pada 2001.
Data dari Puslit MKPI ITS dan BPBD Jawa Timur menunjukkan kerentanan yang tinggi. BPBD telah memetakan 14 potensi bencana, dengan wilayah rawan banjir bandang dan longsor tersebar di lebih dari 30 kabupaten/kota, termasuk Pacitan, Ponorogo, Malang, hingga Banyuwangi.
Ia juga menekankan bahwa pengurangan risiko bencana tidak dapat hanya bertumpu pada pemerintah. Pemberdayaan masyarakat menjadi faktor penentu keselamatan utama.
“Apabila masyarakat telah diberdayakan dan dibekali pengetahuan serta persediaan yang benar, mereka akan tetap dapat bertahan hidup tanpa harus menunggu bantuan eksternal,” imbuhnya.
Ia menyerukan sinergi yang melibatkan pemerintah, komunitas lokal, dan sektor swasta untuk membangun ketangguhan melalui edukasi, latihan, dan kolaborasi, sebagai langkah menghadapi ancaman siklon tropis dan bencana lainnya di masa depan. Hal senada juga diungkapkan mantan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati.
Dia menilai bahwa kejadian tersebut bukan lagi sekadar fenomena cuaca biasa. Menurutnya, perubahan iklim dan kemunculan siklon tropis dengan pola yang tidak lazim sebagai faktor terbesar meningkatnya risiko bencana di kawasan tersebut.
Dwikorita menjelaskan bahwa ada dua pemicu utama yang memperparah situasi. Pertama, intensitas hujan yang jauh lebih tinggi dari normal karena dipengaruhi sistem siklon tropis.
Kedua, kondisi geologi Sumatera yang rawan, mengingat pulau ini terbentuk dari lempeng tektonik dasar laut sehingga banyak wilayah memiliki struktur batuan yang retak. “Kalau ada gempa kecil, bisa langsung longsor,” ujarnya kepada wartawan di Yogyakarta, dikutip Sabtu (6/12/2025).
Ia menerangkan bahwa longsoran tanah dapat menutup aliran sungai dan membentuk bendungan alami. Ketika bendungan tersebut jebol, banjir bandang serta material lumpur dan batu berpotensi menghantam permukiman baik di hulu maupun hilir.
Lebih jauh, dia menegaskan bahwa pola siklon tropis beberapa tahun terakhir menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Siklon kini kerap muncul di jalur yang sebelumnya tidak menjadi lintasan, bahkan melintasi daratan dan pulau-pulau besar.
Hujan lebat disertai angin kencang berlangsung selama beberapa hari, berbeda dari hujan musiman yang umum terjadi. Fenomena tersebut terlihat pada beberapa kejadian terbaru yang dikategorikan sebagai anomali siklon tropis.
Beberapa contoh yang sempat tercatat adalah Siklon Seroja dan Siklon Cempaka, yang keduanya menunjukkan pergerakan tak lazim. Dwikorita memperingatkan bahwa pola serupa berpotensi meningkat, terutama menjelang puncak musim hujan akhir 2025 hingga awal 2026.
Ia menekankan bahwa tanpa upaya mitigasi yang kuat, risiko bencana dapat semakin besar. Pemerintah dan masyarakat diminta memperbaiki tata ruang, memperluas kawasan resapan, serta memperkuat sistem peringatan dini.
“Bukan sekadar soal curah hujan ekstrem, tetapi kombinasi cuaca dan kondisi alam membuat Sumatera seperti bom waktu,” katanya.
Menurutnya, kondisi saat ini berbeda dengan bencana alam biasa. Jika penyebabnya murni faktor alam tanpa pengaruh aktivitas manusia, dampaknya tidak akan sebesar sekarang.
Dengan melihat kejadian terkini, Dwikorita mendorong diterapkannya langkah adaptasi dan mitigasi yang lebih serius, mulai dari pengetatan kebijakan lingkungan, penghijauan kembali, pelarangan alih fungsi hutan di area sensitif, hingga edukasi masyarakat mengenai bahaya hujan ekstrem dan munculnya siklon tropis.
Ia mengingatkan bahwa perubahan cuaca yang semakin cepat menuntut Indonesia untuk belajar dari pengalaman sebelumnya. Menjaga kelestarian alam dan memperkuat kesiapsiagaan bencana menjadi kunci agar masyarakat lebih siap menghadapi risiko di masa mendatang.
Peringatan dari Dwikorita, lanjutnya, bukan sekadar data teknis, tetapi ajakan nyata agar semua pihak bergerak sejak sekarang demi mencegah lebih banyak korban jiwa di masa depan. Termasuk juga kesiapsiagaan masyarakat di wilayah lainnya di Indonesia. (sic)