Naradaily-Kementerian Luar Negeri Jepang pada Selasa (27/1/2026) mengeluarkan peringatan terkait risiko infeksi virus Nipah bagi warga negaranya yang berada di India maupun yang berencana melakukan perjalanan ke negara tersebut. Peringatan ini menyusul ditemukannya kasus terkonfirmasi virus Nipah di wilayah Kolkata, Negara Bagian Benggala Barat.
Dalam keterangannya, Kemlu Jepang mengimbau warga negara Jepang agar meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah pencegahan infeksi selama berada di India. “Warga negara Jepang yang saat ini berada di India atau yang berencana bepergian ke negara tersebut diimbau untuk mengambil langkah antisipasi pencegahan infeksi,” demikian pernyataan Kemlu Jepang.
Secara khusus, otoritas Jepang menyarankan agar masyarakat rutin mencuci tangan, menghindari kontak yang tidak perlu dengan hewan, serta lebih berhati-hati dalam memilih dan menyiapkan makanan maupun minuman. Salah satu imbauan yang ditekankan adalah tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang berpotensi terkontaminasi oleh kelelawar.
Kemlu Jepang juga meminta warganya segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala seperti demam, sakit kepala, mual, pusing, atau perubahan kesadaran selama berada di wilayah terdampak.
Peringatan tersebut muncul di tengah upaya otoritas India menekan penyebaran virus Nipah yang mematikan. Pekan lalu, surat kabar Independent melaporkan bahwa wabah tersebut telah menginfeksi lima orang, sementara sekitar 100 orang lainnya harus menjalani karantina sebagai langkah pencegahan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan virus Nipah sebagai salah satu virus paling berbahaya di dunia. Hingga kini, belum ditemukan pengobatan maupun vaksin yang efektif untuk menangani infeksi virus tersebut.
Virus Nipah diketahui terutama menyebar melalui kelelawar dan rubah terbang. Penularan ke manusia umumnya terjadi melalui konsumsi buah yang terkontaminasi air liur hewan yang terinfeksi, serta dapat pula ditularkan melalui hewan peliharaan.
India sendiri memiliki riwayat wabah virus Nipah. Otoritas setempat sebelumnya melaporkan empat kali wabah, yakni di Benggala Barat pada 2001 dan 2007, serta di Negara Bagian Kerala pada 2018 dan 2019. (kom)