Naradaily-Galeri Kampoeng Semar menggelar pameran lukisan bertajuk ”Rembulan di Atas Borobudur hingga 30 Desember mendatang. Suasana syahdu terasa sejak memasuki ruang pamer Galeri Kampoeng Semar tempat berlangsungnya pameran lukisan yang menghadirkan para perupa dari Asosiasi Pelukis Nusantara (ASPEN).
Seniman dari berbagai daerah Jabodetabek, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Magelang ini berhasil memikat pengunjung melalui karya-karya yang memvisualkan keindahan dan keheningan Candi Borobudur dalam cahaya rembulan. Pameran juga dihadiri para seniman dan pelukis Nusantara yang tergabung dalam ASPEN, seniman, kurator, pecinta seni, serta sejumlah tokoh budaya.
Direktur Seni Rupa dan Pertunjukan Kementerian Ekonomi Kreatif RI Dadam Mahdar menyampaikan, pameran ini bukan sekadar pertemuan karya seni, melainkan sebuah peristiwa budaya yang mempertemukan gagasan, imajinasi, dan identitas bangsa. “Tema ‘Rembulan di Atas Borobudur’ menghadirkan simbol keindahan, ketenangan, sekaligus refleksi spiritual yang berpadu dengan kemegahan warisan dunia Borobudur,” ujarnya, dikutip Rabu (10/12/2025).
Lebih lanjut dikatakan, melalui karya-karya para pelukis Nusantara, kita diajak untuk merenungkan hubungan manusia dengan alam, sejarah, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang kita. Ia juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kampoeng Semar, ASPEN Jabodetabek, ASPEN Magelang, ASPEN Solo Raya, ASPEN Semarang, ASPEN Yogyakarta, serta Komunitas Seni Magelang yang telah berkolaborasi menghadirkan pameran ini.
Disebutkan, kehadiran pertunjukan seni Betawi berupa Ondel-ondel oleh Suprayogi dan Tari Topeng Geprak Betawi oleh Indi Moza Purnomo juga memperkaya acara. Menurutnya ini menunjukkan betapa beragamnya ekspresi budaya Indonesia yang dapat bersatu dalam satu panggung.
“Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI senantiasa mendukung upaya para seniman dalam memperkuat ekosistem seni rupa dan seni pertunjukan,” imbuhnya. Dikatakan, seni adalah bagian penting dari ekonomi kreatif yang tidak hanya memberi nilai estetika, tetapi juga membuka peluang ekonomi, memperkuat identitas bangsa, dan mempererat persaudaraan.
Ia berharap, pameran ini menjadi inspirasi bagi masyarakat, memperluas apresiasi terhadap seni rupa, serta memperteguh komitmen kita untuk menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya Nusantara. “Mari kita jadikan seni sebagai cahaya yang menerangi kehidupan, sebagaimana rembulan yang bersinar di atas Borobudur,” ajaknya.
Tema ‘Rembulan di Atas Borobudur’, lanjutnya, menjadi inspirasi bukan saja karena Borobudur tidak hanya berperan sebagai landmark sejarah, tetapi juga sebagai ruang spiritual yang menyimpan keajaiban alam terutama saat rembulan menggantung di atas struktur megahnya. Prosesi pembukaan pameran dilakukan secara sederhana dan simbolis dengan menorehkan cat di atas kanvas oleh Dadam Mahdar dilanjutkan berturut Chryshnanda Dwilaksana, Yohanes Handoyo Budiesedjati, Grengseng Pamuji, dan beberapa tamu undangan sebagai tanda “membangkitkan cahaya” dalam ruang seni.
Sementara itu Ketua Asosiasi Pelukis Nusantara (ASPEN) Kembang Sepatu menjelaskan, pameran “Rembulan di Atas Borobudur” di Galeri Kampoeng Semar Jl. Kanggan, Tanjungan. Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, ini akan berlangsung hingga 30 Desember 2025 dan terbuka untuk umum. (sic)