Naradaily-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah menyiapkan kerja sama pembangunan dan pengembangan bandar khusus bagi pesawat amfibi (seaplane). Proyek ini bertujuan menghubungkan berbagai destinasi wisata di Bali, NTB, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala Dinas Perhubungan NTB, Ervan Anwar, menyebut konektivitas menjadi isu strategis dalam kerja sama regional antara Bali, NTB, dan NTT. Ia menilai kemudahan akses antarwilayah akan berdampak langsung terhadap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan.
“Dinas Perhubungan NTB fokus pada penguatan konektivitas dalam kerja sama regional Bali, NTB, dan NTT. Hal ini penting untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (15/4/2026).
Dalam rencana tersebut, seaplane akan dimanfaatkan sebagai moda transportasi yang menggabungkan jalur udara dan perairan. Konsep ini dinilai lebih efisien karena tidak memerlukan landasan pacu konvensional seperti bandara pada umumnya. Pesawat cukup menggunakan lintasan air sepanjang sekitar 400 meter untuk lepas landas dan mendarat.
Ervan menjelaskan, kehadiran seaplane akan membuka akses ke berbagai destinasi wisata jarak pendek di NTB, seperti kawasan Gili Tramena, Gili di sekitar Sekotong, wilayah Lombok Timur, hingga Teluk Saleh. Destinasi-destinasi tersebut selama ini relatif sulit dijangkau dengan cepat melalui jalur darat maupun laut.
Namun demikian, ia mengakui bahwa layanan ini menyasar wisatawan kelas menengah ke atas, khususnya mereka yang memiliki waktu terbatas tetapi ingin mengunjungi banyak destinasi sekaligus.
Saat ini, pembangunan fasilitas di kawasan Batujai masih dalam tahap pemenuhan perizinan dan regulasi, baik dari sektor transportasi udara maupun pemanfaatan ruang perairan.
Selain itu, Pemprov NTB juga tengah memfasilitasi pengoperasian Pelabuhan Mandalika. Proses perizinan masih berlangsung sebagai syarat operasional dermaga tersebut. Nantinya, Dermaga Mandalika di kawasan KEK Mandalika akan terhubung dengan dermaga di KEK Sanur, Bali, melalui layanan kapal cepat (fast boat).
Di sisi lain, Ervan menegaskan bahwa penguatan konektivitas tidak hanya dilakukan melalui jalur udara, tetapi juga darat dan laut. Pemerintah terus mendorong integrasi transportasi antardestinasi, termasuk melalui skema subsidi untuk menjaga keterjangkauan angkutan umum.
Dengan penguatan konektivitas yang terintegrasi, NTB diharapkan mampu menjadi pusat pergerakan wisata di kawasan timur Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing destinasi secara regional. (Bagus)