Naradaily-Sebanyak 10.504 peserta lulusan SMA/SMK mengikuti Program Pelatihan Vokasi Nasional Batch I tahun 2026 yang digelar serentak di berbagai wilayah Indonesia. Program ini menjadi salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kesiapan tenaga kerja muda memasuki dunia industri.

Pelatihan ini secara resmi dibuka oleh Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, dengan pusat kegiatan di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi. Berbeda dari tahun sebelumnya, pelaksanaan program kali ini dilakukan secara serentak mulai dari proses pendaftaran hingga pelatihan.

Peserta yang mengikuti program ini tidak hanya terpusat di satu lokasi, tetapi tersebar di sekitar 50 hingga 60 titik pelatihan yang dikelola oleh Kementerian Ketenagakerjaan di seluruh Indonesia.

Pemerintah juga menetapkan target lebih besar sepanjang 2026, yakni mencapai 70.000 peserta yang akan dibiayai melalui anggaran negara. Jumlah ini masih berpotensi bertambah melalui kerja sama dengan pihak industri dan swasta.

Menariknya, sekitar 50 persen peserta pada batch pertama disebut telah memiliki peluang kerja setelah menyelesaikan pelatihan, dengan syarat lulus dan mendapatkan sertifikat kompetensi. Hal ini menunjukkan keterkaitan langsung antara program vokasi dan kebutuhan dunia kerja.

Selain mendapatkan pelatihan, peserta juga memperoleh sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai bukti keahlian. Sertifikat ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing lulusan di pasar kerja.

Pemerintah turut memberikan dukungan berupa bantuan transportasi sebesar Rp20.000 per hari selama masa pelatihan. Program ini memiliki durasi yang bervariasi, mulai dari dua minggu hingga empat bulan, tergantung bidang yang diikuti.

Tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri, program ini juga membuka peluang kerja ke luar negeri. Sejumlah sektor seperti konstruksi, hospitality, hingga tenaga perawatan disebut membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia dengan keterampilan menengah hingga tinggi.

Melalui program ini, pemerintah berharap dapat mengurangi angka pengangguran lulusan SMA/SMK sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia yang siap kerja di berbagai sektor industri. (Syafa)