Naradaily-Amelia Anggraini menilai pengiriman prajurit Tentara Nasional Indonesia ke Lebanon dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) harus didukung informasi intelijen yang memadai guna meminimalisasi risiko keselamatan personel di lapangan.
Menurut Amelia, pengiriman prajurit TNI untuk misi UNIFIL merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Karena itu, ia mengingatkan agar tidak ada lagi prajurit Indonesia yang gugur seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Kami di Komisi I DPR RI mendukung langkah pemerintah terutama Kementerian Pertahanan dan TNI untuk terlibat dalam misi-misi perdamaian dunia yang dilakukan oleh PBB,” kata Amelia di Jakarta, Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan kesiapan ratusan personel TNI yang akan diberangkatkan ke Lebanon harus melalui mitigasi risiko yang terukur. Hal itu mencakup kesiapan personel, dukungan logistik, sistem perlindungan pasukan, hingga skenario evakuasi darurat apabila situasi keamanan di Lebanon semakin memburuk.
Amelia menilai kondisi keamanan di wilayah perbatasan Israel-Lebanon masih sangat fluktuatif sehingga membutuhkan pengawasan serta evaluasi berkala terhadap ancaman di lapangan.
Menurut dia, TNI juga harus memastikan seluruh prajurit yang bertugas telah dibekali aturan pelibatan atau rules of engagement, prosedur force protection, kemampuan menghadapi serangan asimetris, serta dukungan alat utama sistem persenjataan (alutsista).
“Ini penting, karena jangan sampai peristiwa yang beberapa bulan lalu terjadi lagi dan menimpa prajurit kita yang sedang melaksanakan misi perdamaian PBB,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan Indonesia akan mengirimkan 780 prajurit TNI ke pasukan sementara PBB di Lebanon atau UNIFIL pada 22 Mei 2026.
“Tanggal 22 (Mei 2026) rencananya. (Sebanyak) 780 orang (prajurit TNI berangkat ke UNIFIL),” kata Sugiono usai pernyataan pers bersama Indonesia dan Singapura di Jakarta, Selasa (12/5). (kom)