Naradaily-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi dampak signifikan fenomena El Nino terhadap cuaca di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada paruh kedua 2026. Kondisi ini berisiko memicu panas ekstrem dan kekeringan, khususnya di sektor pertanian yang bergantung pada irigasi.

Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG Siswanto mengatakan, El Nino menjadi salah satu faktor utama peningkatan suhu, baik secara global maupun regional. “Di Indonesia, lonjakan suhu rata-rata umumnya terjadi pada tahun-tahun saat El Nino berlangsung,” ujar Siswanto kepada wartawan di Indramayu, Jawa Barat, dikutip Sabtu (25/4/2026).

Berdasarkan proyeksi terbaru, peluang terjadinya El Nino dengan intensitas kuat pada 2026 mencapai sekitar 51 persen, terutama pada periode Juni hingga November. Fenomena ini diperkirakan tidak berlanjut hingga pergantian tahun.

“Berdasarkan rilis data, terdapat peluang bahwa potensi terjadinya El Nino kuat itu sampai 51 persen terjadi mulai Juni hingga November. Kemungkinan setelah November nanti El Nino akan mengalami peluruhan, jadi tidak nyeberang tahun sebagaimana 1977 atau 2015,” bebernya.

Meski intensitasnya diperkirakan tidak sebesar kejadian pada 1997 atau 2015, BMKG menilai kondisi musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut, lanjutnya, harus menjadi perhatian serius bagi Indramayu yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Kekeringan berisiko mengurangi pasokan air irigasi dan berdampak langsung pada produksi pertanian. “Analisis BMKG terbaru, tahun ini kemungkinannya ketika El Nino menguat di semester kedua, itu akan lebih kering daripada tahun 2023. Yang kita khawatirkan adalah ketika musim kemarau yang kering itu nanti men-generate keringnya waduk-waduk juga, yang itu menjadi sistem penopang utama dari irigasi,” terangnya.

Ia juga mengingatkan potensi gagal panen hingga puso akibat kekurangan air. “Tentu ini akan memiliki potensi terjadi gagal panen ataupun juga puso, artinya mati sebelum tumbuh dan panen,” imbuhnya.

Sebagai langkah antisipasi, petani diminta memanfaatkan sisa curah hujan untuk menyimpan air, misalnya melalui embung atau kolam penampungan di lahan pertanian. “Rekomendasi kami di masa-masa sekarang mumpung masih ada hujan itu adalah gerakan memanen air hujan. Dahulu di sawah itu selalu ada kolam air yang namanya blumbang atau embung, itu sebenarnya efektif sehingga sawah ada bagian untuk menyimpan air,” ungkapnya.

Selain itu, pemilihan varietas tanaman yang tahan kekeringan dan berumur pendek juga dinilai penting untuk mengurangi risiko kerugian. “Para petani bisa memilih varietas atau jenis benih yang genjah, yang durasi panennya itu pendek dan lebih irit air. Kemudian di wilayah yang airnya terbatas, pilihan padi gogo atau padi ladang juga menjadi pilihan. Terus jangan nunggu musim yang biasanya, kalau bisa ditanam lebih cepat saat ini mumpung masih ada air,” imbaunya. (sic)