Naradaily-Langit malam ini akan menjadi puncak hujan meteor Lyrid. Fenomena alam tahunan ini diprediksi mencapai titik terbaiknya pada Rabu (22/4/2026) malam dan dapat diamati secara langsung dari wilayah Indonesia tanpa memerlukan peralatan khusus.
Hujan meteor Lyrid termasuk dalam kategori hujan meteor tertua yang dikenal manusia. Fenomena ini berlangsung setiap tahun dalam rentang 16 hingga 25 April, dengan puncak intensitas yang umumnya jatuh pada 22 atau 23 April.
Catatan sejarah dari Tiongkok bahkan mencatat keberadaan hujan meteor ini sejak lebih dari 2.500 tahun, menjadikannya salah satu peristiwa langit yang paling lama didokumentasikan peradaban manusia.
Nama “Lyrid” sendiri diambil dari rasi bintang Lyra, yang menjadi titik radian atau asal tampak munculnya meteor-meteor tersebut.
Secara ilmiah, fenomena ini terjadi akibat Bumi melintas melalui jalur serpihan debu dan puing yang ditinggalkan oleh Komet C/1861 G1 Thatcher — sebuah komet yang pertama kali ditemukan pada 1861. Menurut Time and Date, komet tersebut membutuhkan waktu sekitar 415 tahun untuk menyelesaikan satu putaran orbit mengelilingi Matahari, dan diperkirakan baru akan tampak kembali dari Bumi pada tahun 2276.
Pada puncaknya, hujan meteor Lyrid mampu menghasilkan sekitar 20 meteor per jam. Beberapa di antaranya meninggalkan jejak debu bercahaya yang dapat bertahan hingga beberapa detik di langit.
Malam ini pun terbilang kondusif untuk pengamatan usai bulan kuartal pertama yang akan terbenam menjelang tengah malam, membuat langit menjadi lebih gelap dan memaksimalkan visibilitas meteor.
Tidak ada peralatan khusus yang dibutuhkan untuk menikmati fenomena ini. Cukup cari lokasi yang jauh dari pencemaran cahaya kota, baringkan tubuh, dan biarkan mata beradaptasi dengan kegelapan selama kurang lebih 15 hingga 20 menit sebelum meteor-meteor mulai tampak jelas. (Bagus)