Naradaily-Ketua Majelis Nasional mencatat, jumlah korban tewas akibat gempa bumi dahsyat yang melanda Venezuela telah meningkat menjadi 1.450 jiwa. “Jumlah korban tewas telah mencapai 1.450, bertambah 20 orang sejak perhitungan kemarin,” kata Jorge Rodriguez dalam pidato yang disiarkan televisi, melansir Anadolu dari AFP, Senin (29/6/2026).
Dua gempa dahsyat mengguncang Venezuela pada Rabu pekan lalu, dengan magnitudo masing-masing 7,2 dan 7,5, menurut Survei Geologi AS. Pejabat Presiden Venezuela Delcy Rodriguez mengumumkan keadaan darurat setelah negara tersebut dilanda gempa bumi dahsyat berturut-turut.
PBB memperkirakan sekitar 50.000 orang hilang setelah gempa bumi yang sempat menimbulkan peringatan tsunami tersebut. Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan dia “sangat sedih” atas bencana tersebut saat badan global itu berjanji untuk membantu Venezuela.
Gempa bumi terkuat yang melanda Venezuela dalam 126 tahun terakhir akan membutuhkan “upaya kolektif besar-besaran,” kata kepala bantuan PBB Tom Fletcher dalam sebuah pernyataan. Diketahui, pantai utara Venezuela terletak di perbatasan antara lempeng tektonik Karibia dan Amerika Selatan, tetapi belum mengalami gempa bumi signifikan sejak tahun 1997, ketika 73 orang tewas.
Sedangkan gempa bumi berkekuatan 7,5 skala Richter pada Hari Rabu adalah yang terkuat sejak 29 Oktober 1900, ketika gempa berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang lepas pantai. Gempa tersebut dirasakan di seluruh Kolombia, di mana penduduk di Bogota mengevakuasi gedung-gedung sebagai tindakan pencegahan.
Getaran juga dilaporkan di beberapa kota di Brasil utara, menurut jaringan pemantauan seismik negara tersebut. Jumat pekan lalu, Rodriguez mengumumkan 302 gempa susulan telah tercatat setelah dua gempa bumi dahsyat pada Rabu. ”Gempa susulan terjadi di sepanjang tiga garis patahan geologis utama yang membentang di wilayah Venezuela,” tuntas Rodriguez. (sic)