Naradaily-Asosiasi Game Indonesia (AGI) menilai industri gim nasional memiliki prospek pertumbuhan yang cerah seiring meningkatnya minat generasi muda terhadap profesi pengembang gim dan pergeseran orientasi produksi ke gim premium untuk PC dan konsol. Perkembangan tersebut turut membuka peluang bagi gim buatan Indonesia untuk menjangkau pasar internasional.
“Yang jelas industrinya pasti makin tumbuh. Kalau kita lihat sekarang generasi muda sudah melihat industri gim sebagai salah satu pilihan karir dibandingkan dengan zaman dulu,” kata Ketua Umum AGI Shafiq Husein dalam keterangan resminya, Jumat (23/10/2026).
Selain bertambahnya minat terhadap industri ini, tren pengembangan gim juga mulai bergeser dari permainan seluler (mobile game) ke gim premium untuk PC dan konsol. Menurutnya, pergeseran tersebut terjadi karena pengembang mulai melihat gim premium sebagai bisnis dengan prospek yang menjanjikan.
Orientasi pada platform PC dan konsol juga membuka peluang ekspor yang lebih besar. Gim buatan pengembang Indonesia telah didistribusikan ke berbagai negara.
Shafiq menyebut Amerika Serikat, Eropa, Thailand, dan Malaysia sebagai pasar dengan rata-rata penjualan terbesar. “Pengembangnya sendiri itu kita lebih banyak memang trade-nya untuk platform PC dan konsol yang premium. Jadi memang secara ekspor kita jadinya lebih besar gitu,” jelasnya lagi.
Ia juga menambahkan, gim Indonesia yang diminati pasar luar negeri antara lain menawarkan pengalaman bermain yang santai dan nyaman, atau dikenal sebagai cozy game. Ia mencontohkan Potion Permit dan Coral Island sebagai gim yang memiliki karakteristik tersebut.
Menurutnya, jenis dan konten gim buatan Indonesia berpeluang semakin beragam karena pasar luar negeri cenderung lebih adaptif. Kondisi itu dapat menjadi kesempatan bagi pengembang lokal untuk mengeksplorasi berbagai konsep permainan sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Jika dilihat dalam angka, industri game Indonesia berpotensi menghasilkan nilai tambah hingga USD3,3 miliar atau sekitar Rp59 triliun pada 2030. Selain memberikan kontribusi ekonomi yang lebih besar, pertumbuhan tersebut diproyeksikan mampu mendukung hingga 476.600 lapangan kerja jika Indonesia berhasil mempercepat pengembangan industri gim lokal.
Potensi ini terungkap dalam white paper berjudul The Video Game Industry: Unlocking the Next Level of Economic and Social Development in Southeast Asia yang disusun oleh Access Partnership bersama Tencent. Laporan tersebut dipaparkan dalam ajang World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta dan mengulas peluang pengembangan industri game di lima negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.
Studi ini mencakup seluruh rantai nilai industri gim, mulai dari pengembangan dan penerbitan gim, perangkat keras dan periferal, jaringan ritel, hingga ekosistem esports. Laporan tersebut juga mengkaji kontribusi industri terhadap pengembangan kekayaan intelektual (IP), talenta, pariwisata, dan penyelenggaraan acara, serta memproyeksikan pertumbuhan industri hingga 2030 melalui skenario moderat dan akselerasi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peluang untuk memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari industri game. Namun, untuk mencapainya, pengembangan studio lokal, IP orisinal, talenta, dan akses ke pasar internasional perlu mendapat perhatian lebih besar.
Meski demikian, ia menekankan perlunya dukungan pemerintah untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Dukungan itu dapat berupa pelatihan guna meningkatkan kemampuan pengembang serta regulasi yang mendukung perkembangan ekosistem gim nasional di tengah pesatnya kemajuan teknologi.
AGI telah bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk menghadirkan mentor dari luar negeri guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di industri gim. Melalui penguatan kemampuan pengembang, perluasan pasar, dan dukungan kebijakan, industri gim nasional diharapkan semakin berkembang dan memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB). (sic)