Naradaily-PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) menyiapkan fasilitas parkir pesawat (parking stands) di sejumlah bandara yang dikelolanya untuk maskapai internasional, khususnya maskapai dari Timur Tengah. Adapun langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap dinamika geopolitik yang tengah terjadi di kawasan tersebut.
Kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas penerbangan internasional. Direktur Utama InJourney Maya Watono mengatakan, maskapai Timur Tengah bisa memanfaatkan fasilitas parkir pesawat di bandara-bandara Indonesia yang memiliki kapasitas memadai.
“Dari Emirates, dari Etihad, dari Qatar akan parkir di bandar-bandar kami karena ada kebutuhan itu. Jadi itu salah satu untuk kontribusi kami juga,” ujarnya dalam konferensi pers di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (11/3/2026).
Dia mengatakan, pesawat dari maskapai Timur Tengah tersebut direncanakan akan diparkir di sejumlah bandara di Indonesia yang memiliki kapasitas parkir yang memadai seperti Bandara Lombok dan Bandara Kertajati. Lebih lanjut, dia menambahkan, saat ini jumlah pesawat yang akan memanfaatkan fasilitas parkir tersebut masih dalam tahap perhitungan karena pembahasan dengan maskapai baru dilakukan.
“Ini akan kami sebar di beberapa bandara kami yang memang memiliki kapasitas parkir untuk tiga maskapai tersebut. Jumlahnya sedang dihitung, karena ini baru kemarin kita diskusi. Jadi pastinya kami akan siapkan sebanyak mungkin yang dibutuhkan, terutama di bandara-bandara kami yang memang memiliki kapasitas untuk itu,” bebernya.
Menurut Maya, dinamika geopolitik global merupakan kondisi yang berada di luar perencanaan bisnis perusahaan. Namun sebagai bagian dari ekosistem industri bandar udara dan pariwisata, InJourney Airports berupaya memberikan kontribusi dalam mendukung operasional maskapai internasional yang terdampak situasi tersebut.
Meski begitu, hal itu tidak hanya berlaku bagi Indonesia saja, tetapi juga negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga berpeluang menjadi tempat parkir untuk pesawat-pesawat maskapai Timur Tengah tersebut. “Dan pastinya mereka melihat tetangga-tetangga kita juga di Singapura, Malaysia, dan lain sebagainya. Kami siap untuk menampung itu sebenarnya. Jadi memang ini saya rasa sesuatu yang bisa kami kontribusikan juga dalam krisis ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Direktur Utama Angkasa Pura Indonesia Achmad Syahir menambahkan operasional penerbangan internasional saat ini bersifat dinamis mengikuti kondisi keamanan di negara tujuan. “Jadi kalau misalnya bapak ibu mengikuti juga, ada on off-nya. Jadi pada saat kondisi di sana di tujuan tidak kondusif, otomatis itu off. Jadi kami di sini juga dalam konteks menyesuaikan,” ulasnya.
Menurutnya, kondisi geopolitik yang masih berlangsung, tentunya juga bisa berdampak pada operasional penerbangan. Bahkan juga bisa dihentikan sementara sebagai respons atas situasi yang sedang terjadi.
“Menyesuaikan apabila memang dibuka (penerbangan ke Timur Tengah) kita di sini melayani. Tapi kalau misalnya disana di-close juga itu akan tidak bisa,” tutupnya. (sic)