Naradaily-Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Nabire, Papua Tengah berupaya mencegah munculnya ceramah bernuansa provokatif dengan melakukan program sertifikasi bagi para dai/ustaz. Ketua MUI Nabire KH Rohimin Abdul Rahman di Nabire, Minggu (15/2/2026), mengatakan sertifikasi tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi penceramah sekaligus memastikan materi dakwah yang disampaikan menyejukkan dan tidak memicu keresahan di masyarakat.
“Melalui sertifikasi ini kami ingin memastikan para dai memiliki kelayakan dalam menyampaikan ceramah, baik dari sisi keilmuan, metode dakwah, maupun wawasan kebangsaan,” ujarnya. Ia menjelaskan, pada 17 Ramadhan 1447 Hijriah pihaknya akan menghadirkan ustaz berpengalaman dari Makassar untuk memberikan pembekalan dan sertifikasi kepada para ustaz di Nabire.
Sertifikat dai tersebut akan diterbitkan langsung oleh MUI Nabire sebagai bukti kelayakan berdakwah. Program tersebut juga bertujuan memperkuat pemahaman wasatiyatul Islam atau moderasi beragama serta wawasan kebangsaan bagi para penceramah. Kegiatan dilakukan melalui kerja sama organisasi kemasyarakatan Islam bersama Kementerian Agama Republik Indonesia guna memastikan para dai memiliki kualifikasi ilmu yang memadai.
Menurut dia, saat ini terdapat sekitar 86 ustaz di Nabire yang telah terdata dan dijadwalkan mengisi ceramah tarawih selama Ramadhan. MUI bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) juga telah menyiapkan penceramah untuk ditempatkan di masjid-masjid di wilayah Nabire.
Namun demikian, ia mengakui masih ada sejumlah masjid yang mendatangkan penceramah dari luar daerah. Untuk itu, pihaknya mengimbau agar pengurus masjid terlebih dahulu berkoordinasi dengan Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Nabire sebelum menghadirkan penceramah dari luar, kemudian diteruskan kepada MUI. (kom)