Naradaily-Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Jorge Moreira da Silva menyoroti krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza, dengan lebih dari 60 juta ton metrik puing-puing menumpuk akibat kehancuran yang disebabkan Israel. Kondisi tersebut memperparah penderitaan warga yang hingga kini masih berjuang bertahan di tengah keterbatasan ekstrem.

“Saya baru saja kembali dari Gaza, di mana krisis kemanusiaan semakin memburuk,” kata Jorge Moreira da Silva yang juga menjabat Direktur Eksekutif Kantor PBB untuk Layanan Proyek (UNOPS), dalam pernyataannya pada Kamis (15/1/2026).

Ia menuturkan warga Gaza kini berada dalam kondisi kelelahan, trauma, dan kewalahan. Situasi tersebut diperburuk oleh musim dingin yang keras serta hujan lebat yang melanda wilayah itu dalam sepekan terakhir, sehingga menggandakan penderitaan dan keputusasaan masyarakat.

Menggambarkan tingkat kehancuran yang sangat luar biasa, da Silva menyebut kehidupan sehari-hari anak-anak di Gaza kini ditandai oleh kehilangan dan trauma. “Gaza memiliki lebih dari 60 juta ton puing, setara kapasitas hampir 3.000 kapal peti kemas. Rata-rata setiap orang di Gaza saat ini dikelilingi oleh 30 ton puing,” ucapnya.

Menurut perkiraan pejabat PBB tersebut, dibutuhkan waktu lebih dari tujuh tahun untuk membersihkan seluruh puing-puing yang menumpuk di wilayah Gaza. Ia menegaskan UNOPS siap memberikan dukungan dalam pembersihan puing, pemulihan energi, pengelolaan limbah, serta penyediaan tempat tinggal bagi warga terdampak.

Da Silva juga menekankan pentingnya pasokan bahan bakar yang terus disalurkan UNOPS untuk kebutuhan kemanusiaan. Ia menyebut bahan bakar sebagai tulang punggung operasi kemanusiaan di Gaza. Tanpa bahan bakar, rumah sakit tidak dapat menjalankan layanan kesehatan penyelamat nyawa, sistem air dan sanitasi akan berhenti, bantuan pangan tidak bisa didistribusikan, serta komunikasi dan transportasi bagi petugas tanggap darurat akan terancam.

Selain itu, ia menyampaikan bahwa tim UNOPS bekerja sama dengan UN Mine Action untuk membantu masyarakat menghadapi risiko luas dari sisa-sisa bahan peledak yang belum meledak di antara puing-puing kehancuran. Menurutnya, persoalan puing di Gaza bukan hanya soal volumenya, tetapi juga isi di dalamnya, seperti asbes, sisa-sisa jasad manusia, hingga bahan peledak yang belum meledak.

Dalam pernyataannya, da Silva juga menyambut pengumuman Amerika Serikat terkait transisi ke fase kedua rencana gencatan senjata Gaza. “Ini harus benar-benar menjadi awal dari rekonstruksi. Pemulihan awal harus segera dimulai, termasuk pemulihan akses terhadap layanan dasar,” ujarnya. (kom)