Naradaily-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan sembilan alat deteksi tsunami yang terpasang di wilayah Maluku Utara (Malut) dan Sulawesi Utara (Sulut) berfungsi dengan baik dalam memantau dampak lanjutan dari gempa 7,6 magnitudo yang terjadi, Kamis pagi.
“Sistem peringatan dini multi-bencana atau Multi-Hazard Early Warning System yang telah dikembangkan selama empat tahun terakhir terbukti bekerja secara efektif dalam situasi ini,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Dia menilai sistem peringatan dini tsunami berjalan sesuai prosedur operasional standar sejak gempa terjadi, sehingga pihaknya berhasil menyampaikan informasi awal gempa dan potensi tsunami kurang dari tiga menit setelah kejadian. Selanjutnya, peringatan dini kedua dikeluarkan delapan menit kemudian, sebelum akhirnya peringatan tsunami diakhiri dua jam setelah estimasi waktu tiba (Estimated Time of Arrival/ETA) gelombang pertama.
Adapun dari sembilan alat pengukur pasang surut atau tide gauge yang mencatat kejadian tsunami itu, enam di antaranya merupakan milik BMKG dan tiga lainnya milik Badan Informasi Geospasial (BIG).
“Dengan ketinggian gelombang tsunami berkisar antara 0,25 hingga 0,75 meter, namun pada beberapa lokasi tertentu ketinggian dapat meningkat karena kondisi geografis wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara yang kompleks, seperti keberadaan pulau-pulau kecil dan teluk,” kata Teuku Faisal Fathani.
Dengan demikian, lanjutnya, pemerintah sangat mengandalkan peralatan sensorik yang ada tersebut untuk mengurangi risiko besarnya dampak bencana yang ditimbulkan terhadap masyarakat.
Hal tersebut sebagaimana hasil monitoring BMKG yang mendapati gempa tektonik yang terjadi pada pukul 05.48 WIB dengan kedalaman 33 kilometer tersebut tergolong gempa dangkal akibat aktivitas sesar naik sehingga berpotensi memicu tsunami.
Selain itu BMKG juga mencatat aktivitas gempa susulan yang cukup tinggi hingga pukul 12.00 WIB dengan total 93 kejadian dan magnitudo mencapai 5,5 – 6. Kondisi itu diyakini para ahli BMKG masih perlu diwaspadai karena potensi gempa susulan diperkirakan dapat berlangsung selama satu hingga dua pekan ke depan, tergantung pada dinamika aktivitas seismik di wilayah tersebut.
“Pemantauan akan terus dilakukan karena aktivitas gempa susulan masih cukup tinggi. Diharapkan dengan koordinasi yang baik, dampak korban jiwa dan kerusakan dapat ditekan seminimal mungkin,” ujarnya. (kom)