Naradaily-Gubernur DKI Jakarta periode 1997–2007 Sutiyoso mengaku lega setelah melihat tiang-tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, akhirnya dibongkar pada Rabu. Kepastian pembongkaran tersebut dinilainya sebagai penuntasan persoalan lama yang selama bertahun-tahun membebani wajah Ibu Kota.
“Jujur saja, hari ini, hati saya itu lega sekali dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono pada pagi hari ini,” kata Sutiyoso saat dijumpai di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).
Usai menyaksikan langsung proses pembongkaran, Sutiyoso menceritakan secara singkat awal mula proyek monorel yang kemudian mangkrak selama puluhan tahun. Pada 2003, ia memiliki keinginan kuat untuk mengurai kemacetan Jakarta dengan menghadirkan moda transportasi baru. Untuk itu, ia berkonsultasi dengan sejumlah pakar transportasi serta melakukan survei dan studi banding ke berbagai negara.
Ketika berkunjung ke Bogota, ibu kota Kolombia, Sutiyoso mengaku terinspirasi untuk membangun monorel di Jakarta. Namun, kondisi sosial ekonomi saat itu yang dinilai cukup sulit membuat rencana tersebut tidak dapat segera direalisasikan. Meski demikian, tekadnya untuk menghadirkan monorel tidak surut.
Pada 2004, proyek monorel Jakarta resmi dicanangkan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Sutiyoso menuturkan bahwa saat proyek tersebut dicanangkan, seluruh perencanaan sudah disiapkan, termasuk kehadiran investor dari China. Namun, ia harus mengakhiri masa jabatannya pada 2007 sehingga tidak lagi mengetahui kelanjutan proyek tersebut.
“Artinya, saat dicanangkan presiden, itu berarti segala sesuatunya itu sudah ada. Rencananya jelas, investornya juga ada dari China, tapi saya harus berhenti tahun 2007. Akibatnya, saya tidak tahu, terus mangkrak jadi besi tua seperti ini. Tahun 2014, monorel ini diganti dengan LRT (Light Rail Transit), yang tidak ada rencana sebelumnya,” jelas Sutiyoso.
Di sisi lain, pria yang akrab disapa Bang Yos itu mengakui keberadaan tiang-tiang monorel mangkrak telah lama merusak estetika Kota Jakarta. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta saat ini, Pramono Anung, yang bersedia menyelesaikan persoalan tersebut.
“Saya terima kasih, mudah-mudahan, kalau saya lewat ini, nggak sakit mata lagi. Saya selama ini terus terpikir, sedih gitu kan. Aku yang mulai itu, jadinya kayak begini,” ungkap Sutiyoso.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo meluruskan bahwa Sutiyoso bukan enggan menyelesaikan proyek monorel, melainkan masa jabatannya telah berakhir pada 2007 dan proyek tersebut tidak diteruskan oleh gubernur-gubernur selanjutnya. Karena itu, Pramono berkomitmen menuntaskan pembongkaran seluruh tiang monorel mangkrak.
“Kalau ini sudah berjalan dengan baik, beberapa yang di Senayan pasti akan kami bongkar,” ujar Pramono. (kom)