Naradaily-Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis, tercatat bergerak melemah 30 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.752 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.722 per dolar AS. Meski demikian, rupiah dinilai masih memiliki peluang untuk menguat seiring berkembangnya isu intervensi pemerintah Amerika Serikat terhadap independensi Federal Reserve (The Fed).
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan rupiah berpotensi menguat dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya melemahnya indeks dolar AS dan dinamika kebijakan moneter The Fed. “Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp16.700-Rp16.750 dipengaruhi oleh global berlanjutnya tren pelemahan index dollar dan keputusan The Fed untuk menahan bunga acuan 3,5 persen sesuai prediksi. Independensi The Fed masih terus membayangi dan menimbulkan ketidakpastian,” katanya seperti dikutip Antara di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Mengutip Anadolu, Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan tidak berubah pada kisaran antara 3,5-3,75 persen. Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa bank sentral akan mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga setelah harga-harga mengalami penurunan.
Di sisi lain, The Fed juga menghadapi tekanan politik setelah muncul ancaman terhadap independensinya. Gubernur Federal Reserve Lisa Cook dijadwalkan akan disidang pada bulan ini terkait tuduhan Presiden AS Donald Trump yang menganggapnya telah melakukan penipuan hipotek. Powell menegaskan bahwa independensi bank sentral merupakan hal penting bagi demokrasi modern dan berfungsi sebagai penghalang terhadap politisasi kebijakan moneter.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul keterbukaan Trump mengenai manajemen di The Fed, termasuk kritik berulang kepada Powell dan rekan-rekannya, pernyataan terkait nominasi Ketua The Fed berikutnya, serta keyakinan bahwa presiden seharusnya dikonsultasikan dalam pengambilan keputusan suku bunga.
Namun demikian, dari sisi domestik, Rully menilai potensi penguatan rupiah masih terbatas. “Dari domestik, penguatan rupiah akan terbatas akibat arus dana keluar di pasar modal akibat dari penurunan peringkat investment Indonesia oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International),” ungkapnya. (kom)