Naradaily-Praktik manipulasi saham kembali menjadi sorotan tajam. Di tengah kesibukan negara membicarakan indeks global seperti MSCI, praktik mafia saham justru dinilai semakin leluasa menggerakkan pasar. Situasi ini memunculkan ironi besar di pasar modal nasional, di mana satu pihak sibuk melakukan presentasi dan diplomasi, sementara pihak lain melakukan eksekusi di lapangan.

Menurut politisi Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin, kehancuran harga saham kerap terjadi secara brutal dan sistematis. Saham-saham dipermainkan layaknya mainan, sementara dana investor ritel menguap tanpa bekas. Namun, setiap kali kerugian besar terjadi, publik kembali disuguhi narasi lama bahwa hal tersebut merupakan risiko pasar.

Didi menegaskan kondisi tersebut bukanlah mekanisme pasar yang sehat. Ia menyebut fenomena itu sebagai permainan bandar yang merusak kepercayaan publik. Dalam pandangannya, regulator terlihat rapi dan meyakinkan di berbagai forum resmi, tetapi kehilangan taring saat harus bertindak di lapangan. Penegakan hukum dinilai tidak menyentuh aktor utama, melainkan berhenti pada pelaku-pelaku kecil.

“Yang ditangkap selalu recehan. Yang mengatur permainan tetap duduk nyaman, cerutu menyala, rekening menggemuk,” ujar Didi dalam pesan singkatnya.

Situasi ini, lanjut Didi, membuat bursa efek kehilangan fungsinya sebagai sarana penghimpunan modal yang adil dan transparan. Pasar modal perlahan berubah menjadi kasino elite, sementara investor ritel hanya dijadikan tumbal likuiditas.

Ia juga mengingatkan bahwa jika negara terus terlihat ragu atau takut menghadapi mafia saham, maka jangan heran bila publik perlahan menarik diri dari pasar modal. Dampaknya bukan sekadar pada pergerakan indeks, tetapi pada runtuhnya kepercayaan masyarakat yang nilainya jauh lebih mahal dibandingkan fluktuasi MSCI.

Didi menilai pasar modal tanpa keberanian penegakan hukum hanyalah sandiwara ekonomi. Negara, menurutnya, seharusnya hadir sebagai wasit yang tegas dan berwibawa, bukan sekadar figuran yang membiarkan permainan kotor berlangsung di hadapan publik. (kom)