Naradaily-Ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah pada awal Maret 2026 mulai berdampak pada industri pariwisata global. Penutupan ruang udara di sejumlah negara yang terlibat konflik memicu pembatalan penerbangan dalam jumlah besar dan diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi hingga mencapai kuadriliun rupiah.
Sejumlah maskapai internasional seperti Emirates, Qatar Airways, dan British Airways dilaporkan menangguhkan sementara layanan penerbangan menuju serta dari sejumlah hub utama di kawasan Timur Tengah, termasuk Dubai dan Doha. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi terhadap tingginya risiko keamanan di ruang udara regional.
Data terbaru menunjukkan lebih dari 12.300 penerbangan internasional telah dibatalkan akibat situasi tersebut. Sementara itu, pesawat yang masih beroperasi harus mengambil jalur memutar untuk menghindari wilayah konflik.
Kondisi ini berdampak pada bertambahnya waktu tempuh perjalanan antara Asia dan Eropa yang rata-rata meningkat sekitar dua hingga tiga jam. Selain itu, lonjakan konsumsi bahan bakar juga turut mendorong kenaikan harga tiket pesawat di pasar global.
Dampak krisis ini turut dirasakan sektor pariwisata Indonesia. Sejumlah pelaku usaha perhotelan di Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) melaporkan adanya gelombang pembatalan reservasi dari wisatawan mancanegara, khususnya yang berasal dari Eropa dan Timur Tengah.
“Kami mulai melihat adanya penurunan tingkat okupansi. Wisatawan cenderung menunda perjalanan jarak jauh karena ketidakpastian jadwal penerbangan dan kekhawatiran atas stabilitas keamanan global,” ujar Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Haryadi Sukamdani dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Lembaga riset Tourism Economics memproyeksikan sektor pariwisata di kawasan Timur Tengah berpotensi kehilangan pendapatan hingga US$ 60 miliar atau sekitar Rp 1 kuadriliun. Jika konflik terus berlanjut, jumlah kunjungan wisatawan internasional diperkirakan dapat turun hingga 38 juta orang dibandingkan proyeksi awal tahun 2026.
Pemerintah Indonesia melalui kementerian terkait saat ini terus memantau perkembangan situasi secara intensif. Langkah mitigasi yang dilakukan antara lain dengan menyiapkan rute penerbangan alternatif serta mengoptimalkan pasar wisatawan domestik dan Asia Timur guna menjaga ketahanan sektor pariwisata nasional di tengah ketidakpastian global. (kom)